Rabu, 28 November 2018

Memahami Kemudahan dan Risiko Program Fintech Peer To Peer Lending Bagi Konsumen



" Apakah  seseorang yang bermasalah dengan pinjaman di program fintech akan bermasalah juga dengan BI Checking saat akan mengajukan KPR? " 

Begitu kira-kira pertanyaan seorang peserta "Ngobrol Tempo : Sosialisasi Program Fintech Peer to Peer Lending : Kemudahan dan Risiko Untuk Konsumen " , Selasa, 27 November 2018  di Kaya Resto & Coffee Holic Surabaya. 


Sebelum masuk dalam pembahasan lebih lanjut, sebenarnya kalian sudah paham belum sih apa yang disebut dengan program Fintech?


Yes, seiring dengan perkembangan era digital belakangan ini, anak-anak muda jaman now, berlomba-lomba untuk menciptakan suatu karya yang diharapkan dapat mempermudah  aktivitas dan kehidupan manusia melalui berbagai program startup, yang salah satunya adalah pada bidang Fintech.


Fintech yang berasal dari kata "financial" dan "technology" ini merupakan sebuah inovasi di bidang jasa keuangan. Sedangkan Peer to Peer Lending atau selanjutnya kita sebut dengan P2P Lending merupakan program Fintech yang melayani pinjaman dana bagi pelaku UMKM yang bertujuan memutus batas-batas ketradisionalan dalam proses pinjam-meminjam uang dalam lingkup masyarakat. 


Masalahnya, meski sudah beredar di masyarakat, banyak orang yang masih belum memahami dengan jelas program Fintech ini, sehingga banyak di antara mereka yang kemudian terjebak pada berbagai risiko negatif seperti penyalahgunaan data kontak nasabah hingga cara penagihan yang bisa dibilang tidak beretika. 


Sosialisasi Program Fintech ini menghadirkan 3 narasumber, yaitu :

1. Semuel A. Pangerapan - Direktur Jenderal Aplikasi dan Informatika (Aptika) 
2. Agus Kalifatullah Sadikin - Head of Partnership PT Ammana Fintek Syariah
3. Andri Madian - Chef Marketing Officer Akseleran 



Acara yang dimoderatori oleh Ali Nuryasin (Redaktur ekonomi Tempo) ini dibuka dengan penjelasan dari  Semuel A. Pangerapan yang meyakini bahwa Indonesia sebenarnya memiliki semua komponen yang dapat menjadi kekuatan ekonomi terbesar di dunia pada tahun 2030, asalkan bisa bertransformasi ke ekonomi digital. Dan transformasi ke era digital tersebut bisa dilihat dalam bentuk transaksi yang tidak harus bertatap muka, melainkan beralih pada screen to machine. 


Lebih lanjut lagi, beliau menggambarkan bahwa ada 7 komponen dalam Peta Jalan e-Commerce yang berisi arahan dan langkah-langkah penyiapan dan pelaksanaan perdagangan yang transaksinya berbasiskan serangkaian perangkat dan prosedur elektronik.





Sedangkan yang termasuk dalam tujuh komponen Peta Jalan E-commerce ini adalah :

1. Pendanaan 
Optimalisasi pendanaan untuk UMKM digital dan start up e-commerce
2. Perpajakan
Penyederhanaan kewajiban perpajakan
3.  Perlindungan konsumen
Perlindungan konsumen dan pelaku industri dengan regulasi
4.  Pendidikan dan sumber daya manusia
Edukasi masyarakat dan pengambil kebijakan mengenai e-commerce
5.  Infrastruktur  Komunikasi
Peningkatan infrastruktur komunikasi sebagai fondasi e-commerce
6. Keamanan siber (cyber security) 
Penguatan sistem keamanan siber untuk meningkatkan keamanan transaksi online
7. Perlindungan konsumen
Perlindungan konsumen dan pelaku industri dengan regulasi

Melihat ketujuh komponen tersebut, maka pemerintah merasa perlu mengedukasi masyarakat dan pengambil kebijakan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan e-commerce terutama mengenai perusahaan fintech yang legal dan yang ilegal. 


Memahami Kemudahan dan Risiko Program Fintech Peer To Peer Lending Bagi Konsumen

Oh ya, pernah mendengar isu miring di mana perusahaan fintech melakukan penagihan dengan cara yang kurang beretika dan "menyedot" data kontak peminjam? 


Hmm.. ternyata hal itu termasuk tindakan ilegal dan bertentangan dengan Pasal 26 UU ITE tentang Perlindungan Data Pribadi dalam UU ITE.  Jika hal ini terjadi, Aptika akan menjadi lembaga yang bisa membantu memberikan jalan keluar atas permasalahan tersebut dan ada sanksi yang akan dikenakan kepada operator atau bank pemegang data berkaitan dengan hal tersebut. 




Karena itu, sebelum melakukan proses pinjam-meminjam, kita diharapkan berhati-hati dalam memilih perusahaan Fintech yang memang sudah masuk dalam daftar OJK agar tidak bermasalah di kemudian hari, misalnya dengan memperhatikan platform, bunga, denda, dan perusahaannya. 


Nggak cuma itu, Rek. Ada beberapa tips yang kudu dan wajib kamu tahu sebelum sebelum meminjam di Fintech P2P Lending : 





Sebagai tambahan informasi, saat ini, ada 73 perusahaan fintech P2P Lending yang daftarnya dapat kamu lihat di website OJK.  Perusahaan-perusahaan fintech tersebut memperoleh izin yang berlaku selama setahun, di mana untuk mendapatkan izin fintech tersebut harus memperoleh ISO 27001. 

Gimana, masih ragu dengan program Fintech P2P Lending? 

Sebenarnya program ini sangat membantu sekali terutama bagi UMKM yang benar-benar membutuhkan dana untuk usaha, dengan catatan dipergunakan secara produktif dan tidak dipergunakan untuk hal-hal yang konsumtif. 

Di samping itu Fintech P2P Lending juga menawarkan berbagai kemudahan seperti proses pengajuan secara online yang memudahkan pengajuan pinjaman

Meski demikian, yang harus kamu pahami bahwa Fitench P2P Lending menerapkan bunga yang lebih tinggi dari perbankan konvensional, sekitar 18-21 persen setahun karena tidak adanya aset yang diagunkan, dan yang digunakan  adalah invoice atau SPK 


Salah satu fintech yang direkomendasikan, di antaranya adalah  Ammana yang menargetkan pada UMKM mikro.




Kelebihan dari Ammana ini adalah tidak memberikan denda saat peminjam mengalami tunggakan pembayaran. Meski demikian, ada regulasi khusus yang menyangkut perlakuan yang diberikan pada peminjam, di mana ketentuan tersebut sudah harus dipahami dengan baik sebelum melakukan transaksi termasuk harus memiliki usaha terlebih dahulu saat melakukan pinjaman. Selain itu, di program Ammana ini, para investor dapat melakukan investasi online, tetapi untuk UKM hanya bisa dilakukan secara offline karena harus melakukan verifikasi dan pendampingan terhadap peminjam. 


Berbeda dengan Akseleran, program Fintech yang satu ini dapat melayani peminjaman hingga lebih dari Rp200 juta , tentu saja dengan berbagai ketentuan yang ditetapkan misalnya :

1. Berlokasi di luar wilayah Jabodetabek, Banten, atau Bandung
2. Sudan memiliki laba bersih setidaknya di satu tahun terakhir sebelum mengajukan pinjaman.
3. Memiliki laporan keuangan yang akan dicross check dengan rekening koran setidaknya 3 bulan terakhir.

Namun, apapun program layanan Fintech yang diambil, yang harus digaris besari para pelaku UKM adalah bagaimana mereka memahami secara benar sistem kerja fintech tersebut agar tidak mengalami kemacetan dalam hal pencairan dana, besaran bunga, dan proses pembayaran. 


Oh ya, sebelum kuakhiri ngobrol-ngobrol tentang #PahamiFintech ini,  kembali ke pertanyaan di awal tadi " Apakah  seseorang yang bermasalah dengan pinjaman di program fintech akan bermasalah juga dengan BI Checking saat akan mengajukan KPR? " 

Ternyata tidak, sebab hingga saat ini fintech tidak terhubung dengan sistem perbankan dan pelaku fintechpun tidak punya wewenang untuk melakukan BI Checking atas calon peminjam.

Terakhir, jika dalam perjalanan waktu kamu mengalami masalah dengan Fintech, adukan saja ke @aduankonten untuk ditindaklanjuti oleh Kominfo dan OJK ke depannya.

Gimana? Tak sulit kan #PahamiFintech?

Yes, sebagai generasi Millenial kita kudu dan wajib melek terhadap semua hal yang berbau teknologi, termasuk masalah financial technology ini. Ya nggak?

Pict by : Kakak Niar



Kamis, 15 November 2018

Traveloka Eats Dulu, Kulineran Nang Suroboyo Kemudian



Sudah nonton film Aruna dan Lidahnya? Atau kalau memang belum, tapi pasti tahu kan kalau di sekitar pertengahan Bulan September 2018, sebuah film yang dibintangi oleh Dian Sastrowardoyo, Nicholas Saputra, Hannah Al Rasyid dan Oka Antara ini sempat booming terutama di kalangan pecinta kuliner. 

Lha, kenapa begitu? Yes, sebab film yang diadaptasi dari buku novel karangan Laksmi Pamuntjak ini menceritakan tentang banyak pengetahuan tentang keberagaman kuliner di Indonesia, di mana penonton akan dibawa berpetualang menuju satu tempat ke tempat lain untuk mencicipi berbagai kelezatan kuliner di Indonesia. Dan, salah satu kota yang menjadi persinggahan film tersebut adalah SURABAYA ! 


Bagian serunya, di awal Bulan November kemarin, tepatnya 2-4 November, saya dan Nico beserta para foodiesnya Surabaya mendapat undangan secara langsung dari Tim Traveloka Eats untuk mengikuti Culinary Trip selama 3 hari yang temanya  EATSXARUNADANLIDAHNYA barengan #TEMANKULINERAN. 


Yes ! Acara ini memang terinspirasi dari film Aruna dan Lidahnya tersebut. Namun, tidak semua perjalanan wisata kuliner kali ini sesuai dengan spot-spot yang ada di film tersebut. Demikian juga tidak semua spot yang kami kunjungi juga ada di dalam film itu, tapi semua tidak mengurangi keseruan acara yang sangat-sangat menyenangkan dan mengenyangkan buat kami ber-30 ! Seperti apa keseruannya? Yuk, mari kita kita mulai dari : 


Hari 1 : Jumat, 2 November 2018 
Jam 9 pagi kami, para peserta diwajibkan untuk kumpul dan melakukan registrasi di Hotel Harris Gubeng. (FYI, untuk kelancaran acara, semua peserta mendapatkan fasilitas untuk menginap di hotel tersebut selama 3D2N) Asiknya, karena profesi saya dan Nico sama, so kami boleh ikut berdua dan sudah pasti sekamar dong ya (ini gak perlu dibahas kan, ya sebenernya?)
Untuk review hotel nanti di post terpisah ya. 

Nah, di hari pertama, apa aja sih yang kuliner yang aku santap di hari pertama ? Siap-siap yak ! Ini dia...









Hari 2 : Sabtu, 3 November 2018 


Jadi, sebenarnya di pagi hari kedua ini, kami mendapat jatah breakfast di hotel, tapi karena kedudulan saya dan terlalu bersemangat haha-hihi, tumben tumbenan lupa foto. Tapi yang jelas, menu-menu di resto Harris Gubeng tak perlu diragukan lagi. Kalau kamu sempat makan di sana, jangan lupa cobain wafflenya ya ! Semua teman sepakat bilang wafflenya top markotop 


Baca juga : Marketplace Addicted Buffet Lunch Harris Gubeng : Wajib Coba Makan Di Sini, Gengs !


Siap lanjut ke cerita di hari kedua? Yuk mari, longgarkan ikat pinggang dulu, yak. 








Ahhh.. hari yang melelahkan, menyenangkan, dan sekaligus mengenyangkan sangat! Tapi, herannya menurut cerita teman-teman dan termasuk saya juga, begitu sampai hotel beberapa di antara kami masih laper lho.. Kok bisa ya? 


Untung saja, saya sempat menculik beberapa jajan di mobil untuk bontotan di kamar, sementara temen lain memilih untuk pesen Go-food atau keluar lagi makan malam  tahap ke-dua ! Bener-bener amazing kalian, Gengs!

Masih belum bosan kan?

Yuk, mari lanjut ke :

Hari 3 : Minggu, 4 November 2018 



Oke, sampailah kita di hari ke-tiga !


Seperti yang sebelumnya, pagi ini kami diminta kumpul jam 7 pagi buat mengenyangkan perut di hari terakhir ! 

Dasar sudah laper di malam sebelumnya tapi males keluar makan, pagi hari saya sudah kelaparan dan ribut aja mau sarapan di hotel. Lha, pas woro-woro ngajak temen saya Mr. Boo buat makan, eh dia bilang nggak dapet sarapan di hotel pagi itu huhuhu.. Gatot buat foto deh.. 

Tapi, gpp sih, terobati juga dengan perjalanan pagi ke BUBUR AYAM SPENSIX yang ada di Jalan Jawa. 

Bubur ayam yang dibandrol dengan harga per porsi sekitar Rp 14.000 dan Rp 18.000 jika lengkap dengan rempelo ati ini ternyata emang enak.. huhuhu.. kenapa baru tahu hari itu ya? Padahal, saya sebenarnya bukan penggemar bubur.  Bahkan, Mbak Yuniari yang katanya ga doyan bubur (akhirnya mesen setengah porsi) juga bilang enak..  Nah, lho !

Setelah kenyang dengan snack pagi itu (( SNACK )), kami diajak untuk melihat simbol kebanggaan arek-arek Surabaya yaitu TUGU PAHLAWAN.  Nggak perlu pakai guide, sebab, ternyata para pendamping kelompok kami (kami dibagi jadi 4 kelompok) adalah Guide handalnya Surabaya, alias mantan Cak dan Ning Surabaya . Hohoho. Asik tenan kan?

Apalagi, guide kelompok kami, kelompok 3 adalah Cak Teddy , yang adalah Cak Suroboyo 2015. Mantull ! 

Nah, setelah dari TUGU PAHLAWAN, kami diajak cari oleh-oleh di Pasar Genteng. Dan saya memberli sebungkus IKAN LIDAH ASIN , PETIS SASETAN dan PINGGIRAN SPIKU ! hahahaha. emak-emak banget kan?

Puas belanja, kami masih diajak snacking lah. Kemana kali ini? 

Yes, kami akan mencoba mencicipi rujak cingur Ahmad Jais yang seporsinya Rp 70.000 dan setempehnya, Rp 1.050 jeti untuk 15 porsi. Yoopo perasaanmu, Rek? makan rujak cingur sejeti ? hahaha.

Emang enak sih, bumbunya gurih, pekat dan cingurnya emfuk nget.. Tapi, yang namanya rujak cingur yo wes ngono ae lah kalo nurut aku. 
Rujak cingur Ahmad Jais , sejeti lima puluh rebu
Nah, setelah puas menikmati rujak sejeti itu, kami masih diajak untuk nge-game di Pasar Atom yang legendaris juga. Bayangin aja sih, wes kenyang disuruh playon.. hulala ~ 



Sayangnya, kami nggak menang game meski ada kejadian handphone yang melayang dan LCDnya pecah huhuhu.. ~  Tapi, seru kok ya . Lumayan membakar kalori setelah digeber makanan 3 hari full !

Dan setelah kami semua diajak makan siang sekaligus penutupan di SOTO AYAM CAK HAR MEER ! Huhuhu.. jadi selesai nih acaranya ? Selesai? Iya !! Selesai ! Kalau dilamain jadi seminggu, aku bakal menggembul nih hahaha..

Oke deh, itu cerita panjangku tentang pengalaman Culinary Trip bersama Traveloka Eats.
Eh, btw sekarang aku jadi keranjingan ngreview di sana, karena bisa dapet point yang kalau terkumpul bisa dibuat mamam-mamam enak lagi. Plus banyak special offer yang bikin nagih.. Buruan, jangan sampai nggak update !

Akhir kata (cieee) , terimakasih tim Traveloka Eats ! Jangan bosan ajak saya lagi ya. Saya ini orangnya nurut kok hahaha.. 

Tim kami selama 3 hari : Nic, Sisca, Nyonyakece, Venda, Nena, dan Cak Teddy 




Minggu, 11 November 2018

Deklarasi Spirit of Millenials Ajak Generasi Milenial Untuk Aktif dan Inovatif Dalam Menciptakan Konten Positif Di Media Sosial


Dalam beberapa waktu belakangan ini, saya berkesempatan menghadiri beberapa event BUMN yang menghadirkan Ibu Rini Soemarno, yang menjabat sebagai Menteri BUMN saat ini. Dan baru di event kali ini saya melihat aura keibuan yang penuh semangat dari beliau yang begitu terpancar dan tampak mencintai serta dicintai anak-anaknya. Saya merinding, Gaes !


Baca juga : Berani Sukses Di Usia Muda, Inilah Pemenang Wirausaha Muda Mandiri 2018

Yes, Sabtu, 10 November 2018 saya berkesempatan menghadiri sebuah event keren bertajuk Content Creation Festival (Cocofest) yang merupakan hasil kerjasama Kementrian BUMN melalui Bank Mandiri dan juga didukung oleh PT Telkom Indonesia dan menghadirkan Ibu Rini Soemarno di acara tersebut. 


Apa sih Cocofest itu sebenarnya? COCOFEST merupakan ajang festival kreatif yang didukung oleh BUMN dengan tujuan untuk saling menghubungkan dan menginspirasi anak muda Indonesia untuk lebih kreatif dalam berkreasi melalui pembuatan konten positif di media sosial.



Adapun rangkaian Cocofest ini sebenarnya sudah berlangsung sejak Bulan Oktober 2018 lalu melalui berbagai kegiatan yang memang bergaya anak millenial jaman now. Dan, amazingnya, melalui kegiatan tersebut Cocofest telah menerima lebih dari 5200 konten kreatif melalui media sosial, baik berupa foto maupun video yang dibagi dalam 4 kategori yakni  Cocofest Nature, Cocofest Transportasi, Cocofest Infrastruktur, dan Cocofest Lifestyle. Keren banget kan?

Nah, puncak acara yang sekaligus merupakan malam penganugerahan bagi para pemenang kompetisi online tersebut diselenggarakan di Monumen Kapal Selam alias Monkasel Surabaya dengan tema Spirit of Millennials; Tribute to Heroes. 




Kenapa kok Tribute to Heroes? Ya, sebab hari itu bertepatan dengan Hari Pahlawan juga kan ya? Jadi, nggak heran, banyak di antara para Millenial BUMN tersebut yang hadir dan memakai kostum yang disesuaikan dengan tema Hari Pahlawan tersebut. 

Selain untuk mengenang dan menghormati jasa para pahlawan, acara ini tersebut juga dimaksudkan untuk memberikan semangat bagi para generasi milenial BUMN terutama untuk menjadi pahlawan masa kini dengan membuat berbagai konten positif dan kreatif untuk menciptakan masa depan BUMN dan Indonesia yang lebih maju. 


Acara yang dihadiri lebih dari 3000 anak milenial BUMN, selain menampilkan tentang industri kreatif, juga menghadirkan content creator terkemuka dan artis-artis ibukota yang so pasti keren abis.




Nggak itu saja, kedatangan Ibu Rini Soemarno di tengah-tengah acara ini juga memompa semangat para generasi millenial agar benar-benar berani menampilkan diri dan kreativitasnya di BUMN serta tak lupa untuk selalu membantu dan peduli dengan sesama juga. 



Nah, acara sampailah kita di acara puncak, yakni pengumuman pemenang COCOFEST 2018. Hmm.. siapa saja ya? 


Pemenang Best of The Best adalah : Danastri Prabaningrum






Dan pemenang favorit adalah pemilik akun Instagram @bob23hassan





Pemenang kisah inspiratif : PNM Mekaar yang memperoleh total hadiah sebesar Rp150 juta. Wow !





Selamat ya buat para pemenang !



Acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan Deklarasi Sinergi Muda Untuk Indonesia, yang isinya tentang ajakan untuk para milenials agar mau bekerjasama untuk mengisi kemerdekaan Indonesia, menantang hoaks, dan bersinergi membangun negeri. 

Yang seru, malam itu Ibu Rini beserta jajaran direktur BUMN menutup acara Cocofest 2018 #SpiritofMillenials ini dengan flash mob dengan iringan lagu Janger Persahabatan yang menjadi theme song Asian Games 2018 Jakarta-Palembang. 



Berakhir sudah acara keren ini, so buat kamu generasi milenial tetaplah aktif dan inovatif ya, jangan mudah menyerah, dan buang segala sifat-sifat buruk yang dapat menghambat kemajuanmu. Sampai ketemu di event Coco Festival Indonesia selanjutnya !

Pict by : Medialogy Team 










Kamis, 08 November 2018

Widari , Depot Legendaris yang Selalu Laris


Auoooo !!

Semua pasti pada tahu ya, kalau dunia perkulineran di Kota Malang bergerak dengan sangat cepat, seiring dengan munculnya berbagai cafe dan spot kuliner kekinian yang makin memanjakan pecinta kuliner terutama di kota yang (sudah gak) dingin itu.

Belakangan, saya ini sangat sensitif kalau ada yang nanya 
" Ce, kuliner Malang yang enak dan kekinian apa? " 
Kalo mo jutek saya bakalan jawab "Hayambuh (embuh / nggak tahu) ". 

Soalnya, kalo pulang ke Malang saya nggak pernah tertarik cari sesuatu yang kekinian. 
Bagi saya, pulang ke Malang berarti cari yang ngangeni, berbau nostalgia, yang nggak ada di Surabaya, misalnya :

4. Masakan Mama !! (hayoloh!)

Tapi, saya nggak sejahat itu kok, Gaes. Saya bakalan tunjukin referensi dari blog ini, yang kebanyakan ya ngarahnya ke makanan itu juga sih (hahahaha #nyengir). Maklum, saya sukanya yang jadul-jadul dan lejen gitu.
'
Oh ya, ngomongin soal kuliner lejen, kalian sudah pada tahu belum dengan depot yang satu ini? Namanya depot Widari. Lokasinya di Jalan Kawi, tepat di seberang BCA. Nggak susah kok untuk mencarinya. Karena Jalan Kawi termasuk salah satu jalan utama di Kota Malang. 

Agak-agak baper juga sih mo nulis ini, karena beberapa tahun kemarin sempat sering ke depot ini beli bubur ayam buat Suwargi Papa yang kala itu sedang sakit :( 

Depotnya sendiri sebenarnya nggak terlalu besar sih, mungkin hanya ada sekitar 10 meja dengan masing-masing 6 kursi. Tapi, suasana jadulnya kerasa banget, Gaes. Apalagi dengan dinding keramik macam begini, wah makin terasa kejadulannya yak. 


Depot Widari ini menawarkan banyak sekali menu yang bisa dipilih dan mayoritas memang mengarah ke Chinese Food dengan harga mulai 20 ribuan.  



Untuk porsinya, ada yang bisa dihabiskan personal, ada yang bisa disantap rame-rame macam koloke, kolobak, dll. Semuanya enak kok, dan citarasa resep kuno sangat terasa di setiap kecapan rasa masakannya. 

Ada berbagai menu andalan sebenarnya, tapi beberapa menu yang saya coba terakhir kali saat ke sana juga bisa dijadikan referensi, seperti ini :


Bubur ayam

Bubur ayam kesukaan Suwargi Papa ini berbeda dengan bubur ayam Bandung atau yang biasa di pinggir jalan. Bubur ini seperti bubur buatan Emak, jadi tentu saja sangat cocok di lidah kami. Buburnya sangat lembut, sudah dimasak dengan kaldu ayam dan potongan daging ayamnya sudah ada di dalam bubur. Jadi bukan ditabur seperti biasanya. Dan untuk pendampingnya hanya ada taburan sawi asin (jaipo), dan daun bawang. 

So, simple kan ya? Kalau kurang berasa kamu bisa menambahkan kecap asin dan bubuk merica di dalamnya. 



Pangsit mie 
Sudah bukan rahasia lagi kalo Kota Malang adalah kotanya pangsit mie alias cui mie. Hingga saat ini, kuliner ini selalu jadi makanan wajib saya ketika mudik ke Malang. Meskipun ya, di Surabaya juga ada beberapa tenant yang menjual mie semacam ini. 

Pangsit mie di Depot Widari ini dimasak dengan kekenyalan yang pas banget, nggak alot juga nggak overcook. Biasanya, cui mie Malang disajikan terpisah dengan kuahnya, jadi penampilannya cenderung mie kering begini (dan itu kesukaanku) dan sebagai taburan ada daging ayam cincang kering, bawang goreng, bawang daun, dan acar timun. Kemudian sebagai pendampingnya bisa pangsit basah atau kulit pangsit kering. 

Kalau yang di Widari ini kebetulan pangsit basah, yang rasanya? Amboi... enak nget !



Tahu ikan

Kalau nggak salah ini namanya tahu ikan. Seperti tahu bakso gitu lah, tapi bahan dasar baksonya ikan yang dalam seporsi isinya 2 pcs begini. Disajikannya dengan kuah bakso yang light tapi enak. Potongan tahunya gede, isinya padat, dan enak banget. Ini salah satu favorit di Depot Widari juga. Boleh dicoba banget ini.




Untuk minumannya direkomendasikan Es Alpukat Mocca, yang enak dan seger banget. Sayang, pas ke sana sudah dalam kondisi full jadi nggak sempat pesen yang satu itu.

Seperti depot-depot lama umumnya, pelayanan di sini memang nggak terlalu cepat. Bukan fast food ya. Jadi tidak disarankan untuk ke mari saat cacing di perut pada kelaparan. Bisa protes nanti mereka. 

Nah, kalau masih sabar menunggu kamu bisa sekalian belanja makanan ringan alias snack-snack kiloan, di toko sebelahnya yang tembus langsung dengan Depot Widari ini. Murah-murah dan enak pula. Jadi, kalo mo cari oleh-oleh bisa lah ke mari. 

So, kalo kalian ke Malang jangan lupa cobain ini yak !
Catatan pentingnya : Depot ini menyediakan makanan berbahan B2, jadi yang tidak bisa makan wajib dipertimbangkan .