Selasa, 31 Juli 2018

Mempersiapkan Masa Depan dengan Berinvestasi Melalui Reksa Dana




"Menabunglah sebanyak mungkin sebisamu" begitu nasehat yang sering digaungkan mama sedari saya kecil. 

Dulu, saat belum menikah dan masih menjadi tanggungan orangtua sejujurnya saya nggak terlalu ambil pusing tentang masalah keuangan. Apalagi saat mulai bekerja, semua rasanya fine-fine aja sehingga membuat saya seringkali lumayan boros untuk membelanjakan gaji yang kala itu bisa dibilang cukup. Itulah yang kemudian membuat mama selalu mengingatkan untuk tidak lupa menabung sebisa saya, alih-alih menggunakan untuk berbelanja hal yang sebenarnya nggak penting. 


Setelah menikah, sepertinya kebiasaan itu nggak bisa saya lanjutkan dong ya. Saya harus belajar dengan benar menata dan mengatur keuangan supaya nggak bablas hingga kemudian menjadi problematika rumah tangga. 


Kenyatannya, ternyata selama ini saya dan orang-orang sekitar seringkali mengeluh tentang kondisi keuangan. 





Ada banyak hal yang terjadi, misalnya kenapa uang yang disimpan di bank kok nggak nambah-nambah, ada yang kepepet dengan berbagai masalah keuangan karena tidak punya simpanan, ada yang punya dana dan disimpan di bank, tapi kok nggak nambah-nambah jumlahnya, dan masih banyak lagi permasalahan keuangan lainnya. 



Ngomongin soal menyimpan uang di bank, selama ini orang menabung untuk mendapatkan bunga , tapi nyatanya bunga bank rendah bisa jadi kalah denhan inflasi. Jadi, nggak heran kalau semakin lama dana yang ditabungkan akan habis.

"Eh, gimana-gimana?"


Gini lho, Gaes misalnya katakanlah bunga di bank itu hanya 1% lalu terkena imbas inflasi maka jelas yang terjadi bukannya nilai uang yang kita simpan bertambah, malah jadinya berkurang, malah bisa jadi minus. Wah, gawat juga ya kalo gitu. Terus kudu gimana nih?


Dilahirkan sebagai manusia yang akan  menentukan peran dalam hidup, ada 3 tahapan yang harus dilalui manusia, yakni : 

1. Usia kecil hingga remaja,  di mana masih tergantung pada orang tua dan income dianggap rendah.
2. Usia produktif di mana sedang sehat-sehatnya, masih punya mimpi dan lain sebagainya. 
3. Usia pensiun, yang di Indonesia umumnya dimulai di atas usia 55 tahun. 

Dalam ketiga tahapan tersebut, usia produktiflah saat di mana  bisa mempersiapkan segala sesuatu yang menyangkut masa depan kita selanjutnya. Namun, sayangnya membicarakan masa depan itu membuat kita ragu, takut, atau bisa jadi belum tahu atau sekedar denial sehingga menjadi kendala untuk mempersiapkan kebutuhan di masa depan.
Yang kemudian akhirnya mengeluarkan  pemikiran "Gimana nanti" yang justru akan berpengaruh pada masa depan kita. 


Faktanya, kita tidak pernah tahu bagaimana gimana nantinya hidup kita kalau tidak dipersiapkan sedini mungkin. Apalagi, secara data ekonomi setiap tahunnya terjadi kenaikan harga barang secara umum : 5,38% per tahun yang membuat harga semakin mahal.

Ambilah contoh yang mudah, kalau dulu kita bisa membeli semangkuk bakso dengan harga Rp 500 dengan porsi kenyang plus mendapat gratis es teh, jaman sekarang untuk mendapatkan kepuasan yang sama harus membayar Rp 30 ribu, itupun hanya mendapat gratis senyuman. 

Itulah yang disebut dengan inflasi di mana seakan-akan uang kita diambil "maling tdk kelihatan" yang menggerogoti tabungan kita sehingga nominalnya berkurang.

Memasuki usia produktif tentu kita sangat semangat dalam melakukan banyak hal, sayangnya usia produktif di Indonesia adalah 55 tahun, dengan usia harapan hidup masa sekarang setidaknya 70 tahun. 

Umur panjang tentu saja harus disyukuri, tetapi dalam bidang ekonomi hal itu menyebabkan munculnya istilah risiko umur panjang yakni risiko yang harus ditanggung saat tabungan usia produktif hrs menanggung usia panjang. Dan yang nggak banyak disadari orang bahwa kebutuhan dana hari tua sangat besar, lho. 

Sudah mempersiapkan dengan baik belum? Nggak mau kan di hari tua kita mengandalkan anak? Sudah nggak jamannya lagi kan?


Nah, karena itu ada beberapa cara yang harus dilakukan supaya kita bisa mempersiapkan masa depan kita dalam hal ini hari tua kita dengan baik, misalnya dengan berinvestasi. 

Apa saja sih yang diperlukan untuk berinvestasi?

Yes, untuk berinvestasi apapun bentuknya setidaknya kita butuh 3 hal, yaitu :
1. Uang
2. Pengetahuan
3. Waktu untuk memonitor instrumen yang kita miliki. 


Dan, bentuk-bentuk investasi ada berbagai macam, seperti :


Dan semuanya tentu memiliki kelebihan dan kekurangan, tapi yang jelas saya yakin bahwa nggak semua orang tahu bahwa tabungan di bank, membeli emas dan properti sebenarnya bukan investasi, tetapi hanya satu aktivitas untuk melindungi agar nilai uang tdk turun

Nah, nggak mau terjebak dalam permasalahan keuangan yang begitu-begitu terus, saya tertarik menyimpan dana yang saya miliki dalam bentuk lain, setelah adik semata wayang saya Winda cerita kalau dia mulai mengalihkan tabungannya ke Reksa Dana. Awalnya sih saya sempat nggak yakin, karena yang seringkali saya dengar reksa dana cukup berisiko jika dibandingkan dengan investasi lainnya. 

Benarkah begitu? Tak kenal maka tak sayang, maka saya mulai mencari tahu apa yang dimaksud dengan reksa dana dan apa saja yang ada di dalamnya. 

Seluk Beluk Reksa Dana

Reksa dana adalah program investasi yang menggabungkan modal dari banyak investor  dan berinvestasi pada beragam instrumen serta dikelola oleh perusahaan pengelola aset. 

Ehm, gampangnya gini, reksa dana itu seperti arisan gitu lho, hanya saja bedanya kalau reksa dana besaran nominalnya berbeda tiap orang dan untuk pengelolaannya dikelola secara profesional dari manajer investasi.

Investasi memiliki kelebihan :
1. Fleksibel. Banyak pilihan produk sesuai dengan kebutuhan investasi
2. Likuid. Bisa dicairkan kapanpun juga
3. Aman. Para pelaku yang terlibat dalam pengelolaan aset diawasi oleh OJK
4. Bebas pajak. Saat pelaporan pajak termasuk dalam harta dan tidak termasuk penghasilan
5. Terjangkau.  Mulai Rp. 10 ribu

Reksa dana sendiri terbagi dalam beberapa jenis yang dapat dipilih sesuai dengan kebutuhan seperti berikut ini : 


Berkenalan dengan Manulife Aset Manajemen Indonesia 

Beberapa waktu lalu, adik saya Winda cerita kalau dia saat ini mulai menginvestasikan dananya dalam bentuk reksa dana. Awalnya saya pesimis, tapi setelah saya cari tahu lebih dalam, akhirnya saya "nyantol" dengan produk reksa dana milik Manulife. 

Lho, bukannya Manulife itu asuransi? 

Yes, emang iya, saat ngomongin tentang Manulife, secara otomatis kita akan menyangkutkan dengan produk asuransi. Padahal, Manulife sebenarnya punya produk lain berupa  pengelolaan investasi (reksa dana) yang dinamakan dengan Manulife Aset Manajemen Indonesia atau disebut dengan MAMI.

Kebetulan Hari Minggu, 28 Juli 2018 kemarin ada acara Kopdar Investarian di Bangi Kopi, sehingga saya sedikit tercerahkan tentang produk pengelolaan investasi milik Manulife ini. 



Dan, kebetulan juga narasumbernya Bapak Legowo Kusumonegoro,Presiden Direktur Manulife Aset Manajemen Indonesia. 



Dengan cara penyampaiannya yang mengedukasi saya jadi tahu kenapa sih harus berinvestasi melalui MAMI. 

Karena MAMI asik !! Ini lho keasikannya: 

1. Edukasi : seluruh interaksi dan pengenalan produknya didasarkan pada edukasi, bukan hanya sekedar menjual produk lalu prospek seperti di tempat lain. 
2. Hemat biaya : 
Reksa Dana Manulife tidak membebankan biaya pembelian, maka 100% dana investor menjadi modal investasi. 
3. Online aja
Kita, sebagai investor dapat melakukan transaksi (jual, beli, alihkan) dan memonitoring pertumbuhan investasi melalui www. klikmami.com. Bahkan, kita juga bisa mendaftarkan investasi kita juga secara online. Asik banget kan?


4.  LANI :  Layanan Investasi MAMI siap membantu setiap hari jam 08.00-22.00 WIB lewat telepon, e-mail, atau live chat


Wah, ternyata nggak terlalu rumit ya memahami reksa dana itu. Semua hal yang kita lakukan memang pasti berisiko, tetapi bagaimana meminimalkan risiko yang harus kita pertimbangkan baik - baik demi masa depan kita nantinya. Setuju?

4 komentar:

  1. Setelah dihitung-hitung, ternyata kita bisa punya milyaran yaa... Hehehe :D

    BalasHapus
  2. Setuju banget mbak, mana depan harus dipersiapkan dengan matang sejak sekarang :)

    BalasHapus
  3. Sejak kerja di bank, aku jd tau kalo uang cuma ditabung doang itu rugi. Segala inflasinya, cm bikin uang kita menyusut saat tua nanti. Makanya aku simpen uang rupiah ga banyak. Hanya cukup utk keperluan bulanan. Tapi untuk investasi, aku main di reksadana, obligasi dan asuransi unit link. Emas juga sih, tp itu kyk katamu mba, hanya utk supaya nilai uangku ga turun :) .

    Untungnya krn aku di bank, produk reksadana yg bisa dibeli banyak macam, termasuk produk manulife, schrodder, paribas, ashmore dll.ada bbrpa produk yg aku ikutin, dan krn risk profileku termasuk speculative, alias berani ambil resiko tinggi dengan return tinggi , makanya aku srg beli produk yg high risk :p. Ga masalah sih, toh aku investasi ini utk jangka panjang. Krn reksadana itu baru menguntungkan setelah lbh dr 5 thn - 10 thn . Kalo utk jk pendek, ya jangan di situ mainnya. Ini yg sering salah kaprah do orang2. Begitu rugi, lgs takut, dan cut loss, redeem rame2. Duuuh, itu justru kesempatan utk Buy saat harganya turun :p

    BalasHapus
  4. Alhamdulillah... udah daftar di klikmami.com

    BalasHapus