Minggu, 29 Juli 2018

Fenomena Harga Rokok Murah Sumbang Terjadinya Stunting Pada Anak


Suwargi Papa sudah mengenal rokok sejak beliau duduk di bangku SMP dan suami saya justru memulai aktivitas rokoknya sejak duduk di kelas 5 SD.  


Kedua pengalaman yang sebenarnya nggak bisa dibilang membanggakan, meskipun sejujurnya saat ngomong tentang yang namanya rokok, nggak bisa lepas dari kehidupan saya setidaknya selama 30 tahun. Kenapa begitu? Ya, karena kedua orang tua bahkan lingkaran keluarga besar hampir 50% bekerja di salah satu pabrik rokok yang terkenal pada jamannya di Kota Malang. 


Hingga saat berpulangnya, Papa bahkan masih belum bisa mengatasi keinginan untuk merokok, meski di bulan-bulan terakhir sudah mulai menghilangkan kebiasaannya karena vonis gagal ginjal yang akhirnya membuat beliau pergi selamanya berpulang ke rumah Bapa di Surga ( hiks.. I miss you so much, Pa).  


Lha ya kan.. ngerokok.. O'o kamu ketauan :D - my Suwargi Papa

Namun, Puji Tuhan peristiwa berpulangnya papa justru membuat Nicom suami saya menghentikan aktivitas merokoknya hingga hari ini, dan tentu saja salah satu alasannya karena, asma yang adalah penyakit bawaan saya agak sering kambuh hingga beberapa kali terpaksa dibawa ke UGD untuk nebulizer.

Faktanya, merokok tidak hanya menimbulkan terjadinya asma tapi juga bisa menyebabkan timbulnya berbagai penyakit seperti stroke, jantung, dan bahkan berkaitan dengan kondisi stunting yang terlihat pada terhambatnya tinggi dan berat badan pada anak. Lho, kok bisa?

ROKOK MURAH SUMBANG TERJADINYA STUNTING PADA ANAK

Pada Hari Rabu 28 Juli 2018 kemarin, saya sempat mengikuti talkshow #RuangPublikKBR serial #RokokHarusMahal edisi ke-7 bersama narasumber Dr. Bernie Endyarni Medise,SpAK MPH Ketua Satuan Tugas Remaja Ikatan Dokter Anak Indonesia IDAI dan Teguh Dartanto, PhD Ketua Departemen Ilmu Ekonomi Fakultas Ilmu Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia.


Mengangkat tema Rokok Murah Penyebab Stunting, talkshow yang diadakan setiap Hari Rabu mulai jam 09.00 pagi ini mengungkapkan fakta dan data yang sungguh membuat saya tercengang. 

Menurut Teguh Dartanto, berdasarkan data yang diambil oleh Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS-UI) menyebutkan bahwa selama periode penelitian yakni dari tahun 2000 - 2007, ditemukan bahwa anak-anak dari orang tua perokok kronis memiliki kecenderungan berat badan 1.5  kg lebih rendah dan tinggi 0. 34 lebih pendek daripada anak yang orangtuanya tidak merokok. 

Penelitian yang dilakukan oleh  kombinasi orang - orang di bidang kesehatan dan ekonomi ini menggunakan data panel, yang artinya ditujukan pada keluarga yang sama dan orang yang sama dalam periode penelitian yang berlangsung selama 7 tahun ini. 

Bertujuan memberikan advokasi tentang isu rokok yang dikaitkan dengan isu ekonomi dan kesehatan, penelitian ini juga menemukan fakta menarik bahwa selama 21 tahun, terhitung dari tahun 1993 - 2014 terjadi peningkatkan konsumsi rokok dari 3,6 % menjadi 5,6 % yang menggunakan anggaran pengeluaran rumah tangga.

Artinya, dengan meningkatnya 2% pengeluaran untuk membeli rokok berdampak pada penurunan pembelian bahan makanan lain yang sarat akan gizi seperti daging, protein, dan telur sebagai sumber protein. Bahkan, berdasarkan penelitian yang dilakukan di 13 provinsi pada 5000 orang ini menyebutkan bahwa ada kasus, di mana sebuah keluarga dengan penghasilan Rp 60ribu perhari, hanya menyisihkan Rp 20ribu untuk memenuhi asupan gizi keluarga sebab Rp 40ribunya sudah dialokasikan untuk uang rokok Sang Bapak. Miris, yah?


Source : gifer.com

Secara garis besar, hasil penelitian menggambarkan bahwa, selain terkait dengan masalah ekonomi, isu rokok ini juga berdampak pada kecerdasan anak-anak yang lahir dan bertumbuh pada keluarga perokok aktif. Bapak yang terlalu sering merokok seringkali ditemukan menjadi tidak produktif dalam bekerja sehingga membuat sang ibu yang harus ngoyo bekerja dan menyebabkan masalah gizi anak menjadi terkesampingkan, dan mirisnya hal ini terjadi pada 20% masyarakat miskin yang masuk dalam penelitian. 



www.nyonyakece.com
Lebih lanjut lagi, dokter Bernie menyebutkan bahwa sebenarnya yang dimaksud dengan stunting ini tidak hanya menyangkut tentang tinggi badan, melainkan kondisi mal nutrisi kronis yang juga dapat menyebabkan terganggunya pertumbuhan secara fisik dan perkembangan otak pada anak. 

Dan yang wajib diperhatikan oleh mereka yang saat ini  sedang merokok dan istrinya dalam keadaan hamil adalah perkembangan otak anak terjadi di 1000 hari pertama kehidupan (HPK) di mana hitungan itu berasal dari 9 bulan saat masih berada di dalam kandungan dan 2 tahun masa perkembangannya. 


Hmm.. sebaiknya dipikir baik-baik ya, calon bapak kalau nggak pingin fungsi otak, tinggi badan, dan kondisi kesehatan calon anak akan terganggu karena paparan asap rokok yang kamu hisap.




Source : gifer.com

Yang mungkin tidak disadari banyak perokok, bahwa orang-orang di sekitar  baik itu anak, istri, dan siapapun yang disebut dengan 2nd hands smoker tetap  terkena paparan asap rokok yang dapat bertahan 3 hingga 4 jam setelah asap itu hilang. 


Ngerinya, asap rokok yang mengandung 6000 - 7000 bahan kimia ini dapat menyebabkan anak menjadi mudah sakit, terutama juga yang berhubungan dengan saluran pernapasan seperti asma . ( Oh, tidak -_- jangan - jangan..aku juga korban paparan nih). Sedangkan hal lainnya akan mengganggu fungsi organ yang berhubungan dengan penyerapan gizi. Ngeri 'kali, Bah !


Mengapa rokok harus mahal?




Serial talkshow dengan tema besar #RokokHarusMahal ini diangkat ke tengah masyarakat berdasarkan penelitian yang menemukan bahwa terjadinya peningkatan konsumsi rokok yang cukup mencengangkan sebesar hampir 4x lipat (1,8 % di tahun 1993 menjadi 7,7 % di tahun 2014) pada anak usia 11 -20 tahun, dan pada usia produktif 21-30 tahun juga meningkat dari 14,5 % di tahun 1993 menjadi 23,6% di tahun 2014. 

Itulah sebabnya kenapa rokok harus mahal, selain agar para orangtua terutama di keluarga miskin lebih peduli pada suplai gizi anak, juga agar anak-anak usia sekolah harus berpikir ulang untuk membelinya.


Kampanye ini harus digaungkan, meski kita juga tahu pemerintah hingga saat ini masih setengah hati untuk bertindak keras pada industri rokok yang juga berperan dalam perekonomian. 


So, mulai sekarang sebaiknya mulailah untuk menghentikan konsumsi rokok terutama demi kesehatanmu secara pribadi dan orang sekitarmu. Tidak ada kata sulit dan terlambat, toh seperti yang sudah kubilang sebelumnya, suamiku yang hampir 30 tahun merokok aktif bisa juga menghentikan kebiasaannya itu, demi aku, tentunya. 


Buat teman-teman yang masih penasaran dengan perbincangan tentang #RokokHarusMahal, masih ada satu kali lagi penayangannya nanti di Hari Rabu. Silahkan dengarkan siarannya melalui streaming di KBR.id atau tontong tayangan Live Facebook Kantor Berita Radio - KBR mulai jam 09.00 pagi hingga 1 jam ke depan. 



Jika teman-teman mendukung kampanye Rokok Harus Mahal, silakan tandatangani petisinya di www.change.org/rokokharusmahal

Yuk, selamatkan Anak Bangsa dari dampak rokok yang memiskinkan, sekarang juga. 

1 komentar:

  1. Miris mbak sama cerita bapak yang cuma nyisihin 20ribu untuk gizi sisanya buat rokok. Berarti rokok juga bisa mengubah manusia jadi super egois.

    BalasHapus