Rabu, 13 September 2017

Melongok Uniknya Gereja Batu Puhsarang Kediri, Tempat Ziarah Umat Katolik di Jawa Timur

Sekali lagi ini adalah #verylatepost dan sebenarnya ini adalah lanjutan dari postingan sebelumnya yang ternyata sudah setahun lamanya parkir di draft saya πŸ˜”πŸ˜”

Jadi ceritanya setahun kemarin, saya dan Nico dengan terpaksa harus agak lama di kampung halaman Blitar, demi mengurus surat pindah KTP dari Blitar untuk masuk ke Surabaya. Saking ribetnya birokrasi di sana, akhirnya kami memutuskan seminggu tinggal di Blitar, dan di tengah-tengah penantian itu (astaga, apaan ya ini whahaha) kami berdua menyempatkan untuk refreshing, berwisata kuliner sembari melakukan ziarah di salah satu Gua Maria yang terletak di Kediri, kota yang dekat dengan Blitar dan cukup ditempuh dengan perjalanan motor selama 1,5 jam saja. 




Baca juga : Mengurus Surat Pindah KTP Berbonus Liburan



Buat umat Katolik, penghormatan dan bakti kepada Bunda Maria, Ibu dari Sang Penyelamat Yesus Kristus adalah hal yang paling dasar dan terpenting dalam iman mereka. Maka nggak heran, banyak dibangun Gua Maria sebagai bentuk tanda cinta kepada Bunda yang selalu berbelas kasih itu.

Begitu pula dengan kami berdua. Seandainya bisa, kami selalu meluangkan waktu untuk berziarah di Gua Maria, dimanapun berada. Ini juga "Warisan" dari Suwargi Papa, yang setiap jalan keluar kota selalu mengajak mampir di Gua Maria terdekat. 


Berbekal informasi dari seorang kawan, kami  menemukan sebuah homestay yang bagus dengan harga terjangkau yang ternyata adalah milik dari teman mama Blitar. 
Review tentang homestay bisa dibaca di sini ya : Mbah Kung Homestay Pohsarang Kediri

Balik ke Puhsarang ya. Kalau menilik sejarahnya, Puhsarang atau sering disebut Pohsarang ini :

Gereja Katolik di Pohsarang didirikan atas inisiatif pribadi dari Romo Jan Wolters CM dengan bantuan arsitek terkenal Henri Maclaine Pont pada tahun 1936. Keindahan arsitektur Gereja Pohsarang melekat pada dua nama ini, arsiteknya Ir Maclaine Pont dan pastornya Romo Jan Wolters CM. Ir. Henricus Maclaine Pont sangat pandai dalam membentuk keindahan bangunan Gereja yang mengukir kebudayaan Jawa; sementara Romo Wolters sebagai inisiator memberi roh pengertian mendalam tentang makna sebuah bangunan Gereja dengan banyak simbolisme untuk katekese iman Katolik. Dalam konteks karya misi Gereja Katolik di Keuskupan Surabaya, Romo Wolters dikenal sebagai "rasul Jawa" (bersama Romo van Megen CM dan Romo Anton Bastiaensen CM). 
Disebut "rasul Jawa", karena sebagai misionaris Belanda ia sangat mencintai dan menghormati orang Jawa, bahasa Jawa dan kebudayaan serta nilai-nilai kejawaan. Romo Jan Wolters CM adalah pastor di paroki Kediri pada waktu itu. Insinyur Maclaine Pont juga yang menangani pembangunan museum di Trowulan, Mojokerto, yang menyimpan peninggalan sejarah Kerajaan Majapahit. Sehingga bangunan Gereja Pohsarang mirip dengan bangunan Museum Trowulan. Sayang bahwa gedung museum di Trowulan itu sudah hancur pada tahun 1960 karena kurang dirawat dengan baik sebab kurangnya dana untuk pemeliharaan dan perawatan. Romo Wolters, CM, minta agar sedapat mungkin digunakan budaya lokal dalam membangun gereja di stasi Pohsarang, yang merupakan salah satu stasi dari paroki Kediri pada waktu itu.
Peletakan batu pertama gereja dilakukan pada tanggal 11 Juni 1936, bertepatan dengan pesta Sakramen Mahakudus, oleh Mgr. Theophile de Backere CM, Prefek Apostolik Surabaya pada waktu itu. Dalam gereja kuno ini terdapat dua bagian pokok yakni Bangunan Induk dan Bagian Pendapa. Dalam sambutannya pada waktu peletakan batu pertama, Ir. Maclaine Pont membeberkan rancangannya bahwa hiasan-hiasan simbolis yang ada di salib, seperti mahkota duri, I.N.R.I., Alpha dan Omega, monogram Kristus, paku-paku, nyala api yang menjilat di sekeliling tengah dan akhirnya tetesan darah pada kaki merupakan bagian dari iman Katolik yang penting. 
Di bawah salib yang besar yang menjulang dengan megah di atas Gereja yang kecil itu, akan bergantung merpati perak di dalam gereja. Karena Kristus adalah satu-satunya perantara antara Tuhan dan manusia, Dialah yang telah mempertemukan kita kembali dengan Allah Bapa oleh kematian-Nya di kayu Salib dan selanjutnya menganugerahkan kita cinta kasih dan Roh Kudus, yang mengemudikan Gereja dan menyucikan para anggotaNya. Empat ujung balok yang menonjol akan melambangkan empat pengarang Injil, yang harus menyebarkan ajaran Kristus.
Sementara gambar kedua belas rasul mengatakan bahwa di atas pondasi para rasul-lah Gereja didirikan. Maka, bangunan gereja ini akan merupakan "Kitab Suci" bagi umat yang sederhana yang tak dapat membaca. Seperti halnya raja Jawa yang tinggal di istana (kraton) dengan benteng sekelilingnya dan gapura mengelilingi kraton dan rumah, begitulah juga di sini orang Jawa Katolik, yang harus menunggu kalau hendak menghadap Kristus, Raja dari segala raja. Pertama-tama harus melewati gapura, melalui menara "Henricus" yang besar, untuk mencapai "Istana Tertutup", dimana umat melalui serambi para katekumen, akhirnya sampai di istana Sang Raja. Di tempat yang suci itu, yang sudah terpisahkan jauh dari dunia biasa, dia akan merasakan lebih dekat dengan Tuhan, dia akan berlutut menunduk di depan “porta coeli” – “pintu Surga”. Gereja yang bangunannya sama-sekali terbuka ini kecuali sekitar panti imam, akan memungkinkan mengikuti upacara-upacara suci dari Istana Raja dari segala raja. Dan, Dua ribu orang dapat ditampung di situ.
Sekilas bangunan gereja di Pohsarang mirip dengan perahu yang menempel pada sebuah bangunan mirip gunung. Bangunan yang mirip gunung ini melambangkan atau menggambarkan Gunung Ararat di mana dulu perahu nabi Nuh terdampar setelah terjadi air bah, yang menghukum umat manusia yang berdosa (Kitab Kejadian 8:4), sedangkan bangunan yang mirip perahu tadi menggambarkan atau melambangkan Bahtera atau Perahu Nabi Nuh, yang menyelamatkan Nuh dan keluarganya yang percaya pada Allah, bersama dengan binatang-binatang lainnya. (source : wikipedia)
Nah, daripada penasaran langsung aja jelajahi keunikannya melalui foto-foto berikut ini ya:

Selain digunakan sebagai tempat ziarah, di sini kita bisa juga berbelanja aneka kebutuhan dan ritual Katolik dalam toko-toko rohani yang berjejer di sepanjang jalan menuju Gua utama. Rosario, buku doa, lilin, bahkan kaos dengan tematik Katolik juga ada disini. Nggak ketinggalan juga jerigen yang diperuntukkan mengambil air suci di gua.








Oh ya disini juga terdapat Makam para Uskup dan Romo serta tempat penyimpanan abu jenasah terutama bagi umat Keuskupan Surabaya. Untuk makan dan tempat abunya memang sengaja nggak saya share ya. Hehehehe.. 


Di Puhsarang ini ada banyak spot doa yang biasanya dijadikan ritual doa bagi umat Katolik. Dan utamanya adalah Gua Maria yang selalu menimbulkan kesan mistik karena umat diharapkan untuk hening di tempat ini. Patung Maria ini besar sekali, dan biasanya di sekitarannya banyak digunakan orang untuk ibadat, dan bahkan misa Minggu pagi atau ritual misa malam Jumat Legi. Asiknya, semua ibadat dilakukan secara alami, maksudnya ya duduk di lantai dengan fasilitas yang memang minim dan mandiri. Jangan lupa bawa obat nyamuk oles ya πŸ˜€πŸ˜€







Di dalam Agama Katolik dikenal dengan sebuah ibadat doa, Jalan Salib dimana para umat mengenangkan kisah Sengsara Yesus Kristus sebelum wafat di Kayu Salib.
Ada 15 pemberhentian yang semuanya terdapat diorama yang menggambarkan kisah sengsara tersebut.




























Lumayan panjang, apalagi dijalani saat tengah hari seperti kami berdua saat itu hehehe. Tapi yang namanya sudah niat, ya dijalani saja, meskipun medannya naik turun melintasi bukit.


Bagi yang menginginkan untuk berdevosi kepada Bunda Maria secara khusus melalui doa rosario, bisa melakukannya dalam Pondok Rosario Nazareth.














Ada berbagai gua buatan yang masing-masing menggambarkan peristiwa-peristiwa dalam doa rosario. Peristiwa sedih, mulia, gembira, cahaya (terang) yang masing-masing di dalamnya terdapat rangkaian peristiwa dalam bentuk gambar berkaca dengan lampu untuk meneranginya. (Seperti itulah kira-kira)


Dan buat kamu yang lapar setelah berjalan-jalan seharian. Ada Pondok Kana yang menjual berbagai macam kuliner, dan salah satunya sangat cocok untuk pecinta B2 (pork)








Harganya sangat reasonable dengan rasa yang ciamik menurut kami berdua. Bahkan nih, saking murahnya kami selalu beli sate babi ini sebagai menu makan kami berdua hahaha.

Tapi, buat yang nggak bisa makan babi, masih banyak warung halal juga kok..
 Termasuk yang satu ini nggak boleh untuk dilewatkan . Sate bekicot atau O2  πŸ˜Š



Akhirnyaaa... kelar juga saya menulis tentang Gua Maria ini..hehehe.. sudah pernah kesana?

 Yang jelas, setelah Nico sembuh, kami masih punya cita-cita untuk keliling Indonesia mengunjungi gua-gua Maria yang ada. Doakan kami berdua ya. Nantikan cerita kami selanjutnya ya.. 

2 komentar:

  1. tempatnya unik ya mba...ibadah sekaligus wisata ya mbaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa unik plus bisa ngademin hati setelah jenuh liat padatnya Surabaya wkwkw.. salam kenal mbak, makasih sudah mampir

      Hapus