Rabu, 26 Oktober 2016

Warung Tanpa Nama Seberang RS Mardi Waluyo (Blitar), Mangutnya Bikin Klepek-Klepek

Secara nggak sengaja, saya menemukan warung (tanpa nama) ini ketika menjenguk Alm. Budhe yang kala itu sedang dirawat  di RS Mardi Waluyo Blitar.

Suatu sore, Bulik - adek Mama -  bilang kalau di seberang RS ini ada sebuah warung yang saat sore hari sekitar jam 4 sore, menjual berbagai macam lauk dan gorengan yang menjadi langganannya.  Dan nggak pakai lama, besok sorenya pas kami berdua lapar kepingin ngemil, warung inilah yang jadi jujugan pertama kami. 



Warungnya sederhana saja, non permanen, separuh tripek separuhnya lagi bambu. Letaknya pas di pintu keluar RS Mardi Waluyo , Jl Kalimantan - Kota Blitar.
Meskipun tampak sederhana, ketika menjelang sore sekitar jam 16.00 - 16.30 warung tanpa nama ini mulai diserbu satu persatu pembelinya.
Mulai dari para ibu yang mungkin sudah jadi langganannya seperti Bulik, para pegawai kantoran yang pulang kerja, hingga para bapak yang sekedar cangkrukan sambil ngopi dan ngemil gorengan.



Nggak banyak meja yang disediakan, hanya ada sekitar 3 meja kayu dengan 6 kursi kayu panjang dan beberapa kursi plastik saja, tapi nggak masalah, kebanyakan dari mereka juga beli bungkus kok.

Baca juga seputar : Blitar Kuliner




Di dalam warung, mas dan mbak penjualnya sigap melayani pembeli dengan cepat, mau bungkus lauk, mau ambil gorengan, mau minta minum, bahkan untuk yang makan ditempat. 



Nah, ini yang kami baru tahu, dan bikin saya - yang tadinya cuma berniat cari gorengan - langsung tergoda melihat berbagai macam lauk yang bisa digandengan dengan nasi putih hangat (Lebih tepatnya lagi saya tergoda melihat menu makan yang dipesan seorang bapak) 


Aneka Lauk

Lodeh Tahu dan Telur

Lodeh Sayur
Dan inilah pesanan saya : 
Nasi Mangut Lele dengan Oseng Daun Pepaya.
Seporsi kenyang seperti ini dibandrol dengan harga Rp 10.000,-


Nasi Mangut Lele dan Oseng Daun Pepaya

Serius ! Ini mangut bikin saya klepek - klepek. Lelenya besar, gurih, digorengnya pas, lalu kuahnya aha ! Gurih, sedap, pedasnya sopan, santannya juga kentalnya pas.. waduh beneran ini, sedeppp banget. Kalau dibandingkan dengan masakan sejenis yang terkenal di kota Blitar, saya lebih pilih warung tanpa nama ini.

Gorengannyapun juga nggak kalah enak, nggak serik, rata - rata dihargai Rp 500 -Rp 1.000,- perbuahnya. 

Eh, kalo kesana cobain gandosnya, saya yang belum pernah makan gandos langsung kepincut dengan gorengan yang terbuat dari tepung ketan dan klapa parut ini. Rasanya hampir mirip jadah, tapi lebih lembut, empuk, dan gurih.

Pokoke, semua maknyus .. awas jangan sampai kalap ya :D 

Ini nih si bulet gandos yang bikin klepek - klepek



3 komentar:

  1. mangut.. kenal mangut pas di semarang, nyoba sekali sih enak

    BalasHapus
  2. mbak salam kenal ya. Justru makanan-makanan model begini yang bikin ngiler ngeces gak karu-karuan ya mbak. Ketimbang makanan yang udah masuk ke mal, kadang dimakan rasanya udah anyep kena dinginnya udara AC. Ealah kenapa malah curcol begini yak? Maafkeeeun....

    BalasHapus
    Balasan
    1. hallo salam kenal mbak imelda ^^,
      betul , saya pertama kenal mangut ini waktu tinggal di Semarang sekitar tahun 2004 kemarin, dan langsung jatuh cinta hahaha...

      Makanan kesukaan saya nih mbak :D
      apalagi dimix sama oseng2 godong2an itu.. duh.. rasanya pingin #semaput

      Makasih sudah mampir yaa :D

      Hapus