Senin, 18 April 2016

Tetangga Oh Tetangga

Tulisan ini sebenernya sudah ditulis beberapa hari yang lalu, sudah banyak juga yang komentar disana.. tapi eh tapi pada suatu pagi entah ada angin apa, tangan jahil ini tetiba menghapusnya 

Tulis lagi aja deh biar lebih kaya rasa hahaha 

Jadi begini ceritanya, semenjak wira wiri Surabaya - Malang beberapa lalu setelah Suwargi Papa akhirnya dipanggil ke Surga, kami mendapati rumah sebelah yang semula kosong, ternyata ada penghuninya. Jangan kuatir, kali ini penghuninya murni manusia, bukan alien, bukan teroris, juga bukan makhluk jadi - jadian seperti yang dikomentari temen - temen pada postingan sebelumnya 
(-_-)"

Tetangga ini cantik, dengan gayanya yang stylish, rambut kemerahan, badan langsing, dan punya salon di rumah itu. Sepertinya beliau adalah single parent dan mama cantik usia sekitar 30 tahunan dengan seorang gadis kecil berusia sekitar 6 tahun

Taken from here
Nah, si MaCan (Mama Cantik) ini unik, sejak menjadi warga di lingkungan rumah kami, belum sekalipun saya dan suami berhasil menyapa. Setiap kali saya menyapu di depan rumah dan sudah bersiap menyapa , eh langsung lewat tanpa menoleh. Garing dong ini gigi dianggurin haha.. 

Dan kebetulan beberapa kali saya mengadakan acara dan bagi bagi kue berkatan, saya ketuk pintu pagernya, dan nggak pernah dibukain. Sekali dua kali saya pikir mungkin beliau nggak di rumah, tapi dari dapur saya kedengaran kalo di sebelah ada orang karena ada aktivitas di dapur mereka. 

Katakanlah saya ini kepo, tapi asli lho nggak enak banget kalo kita tetanggaan dempet tembok tapi nggak saling kenal, apalagi pagernya selalu tertutup rapat, keluar rumah langsung ditutup lagi, dan bahkan saya tidak pernah melihat ada pengunjung salon padahal dia memasang banner, petunjuk , dll di lingkungan sekitar.

Ada seorang tetangga yang memang sempat pakai jasa salonnya, eh tapi setelah itu setiap kali mau menggunakan jasanya, selalu ditolak (-_-)" 

Mungkin saya yang berharap banyak dengan apa yang disebut bertetangga ya, dan kurang paham apakah ini yang disebut pola masyarakat perkotaan?
Memang rumah saya di Ibukota, tapi penduduk di sekitarnya masih saling menyapa, sampai di ujung gang lho, karena bukan perumahan cluster yang identik dengan sikap individual. Sama seperti di rumah mama di Malang, yang tetangganya tepo seliro banget , jadi sekarang setelah kepergian papa, saya merasa lega karena mama dan adik saya dijaga para tetangga yang baik hati

Ah , sudahlah saya ini kepo amat ya.. sebaiknya dihormati sajalah keputusan MaCan ini dengan segala keunikannya #nyengir , dan saya (kami) akan tetap menjadi tetangga yang baik meskipun pada akhirnya saya lebih suka menganggapnya ga ada #ngambeg


0 komentar:

Posting Komentar