Senin, 01 Februari 2016

Bagaimana Kamu Memaknai Hidupmu?


Kalo lagi mudik ke Malang, salah satu agenda rutin adalah pijat di salah satu Pusat Pijat Tunanetra. Jadwal pasti dan nggak bisa diganggu-gugat. Habis, disamping pijatnya enak, harganya juga lebih murah sih dibanding di Surabaya (dasar pelit ya, booo).

Nah, satu kali dalam sebuah sesi pijat-memijat kemarin, saya kebetulan dipertemukan dengan seorang terapis tunanetra yang sebut saja namanya Bunga  Erni. Mbak Erni ini usianya sekitar 36 tahun, penampilannya rapi, dan segar.  Aslinya Jember, punya anak dua orang, usia 14 dan 8 tahun,   dan Puji Tuhan, fisiknya  normal, meskipun kedua orangtuanya penyandang tunanetra. Suaminya juga terapis di tempat yang sama, mereka tinggal di klinik pijat itu bersama-sama dengan sekitar 28 orang terapis yang lain.

Awal mula sih kami ngobrol biasa aja cerita ngalor-ngidul, basa-basi kecil. Hingga akhirnya lebih dalam lagi dan lebih dalam lagi, kami (lebih tepatnya saya) bertanya-tanya tentang banyak hal yang selama ini membuat saya penasaran, dan Mbak Erni mau menjawabnya dengan terbuka. 

Saya (S) : Mbak, maaf , mbak-nya memang kekurangannya (buta) sejak lahir atau setelah besar?

Mbak Erni (ME) : Dari lahir mbak, tapi saya awalnya saya masih bisa melihat meskipun samar-samar.

S : lalu?

ME : setelah melahirkan anak pertama, 14 tahun lalu sudah mulai berkurang penglihatan saya, dan semakin kabur setelah melahirkan anak kedua  8 tahun lalu.

S: Aslinya mana toh, mbak?

ME : Saya dari Jember

S: Anak dan suami dimana?

ME : Suami saya juga terapis disini, anak saya sama neneknya di Jember

S: Sering pulang,Mbak? Anaknya pernah kesini? 

ME : Sering , setiap bulan saya mesti pulang , anak saya pernah kesini tapi sekarang sudah nggak, nggak boleh sama neneknya. Jadi ya saya yang pulang.

S : Dulu awalnya gimana ceritanya kok bisa sampe di Malang?

ME : Dulu saya sempat dilarang orangtua ke Malang, namanya juga anak perempuan, buta lagi, jadi orangtua saya kuatir. Saya paham dengan kekuatiran mereka, tapi saya jelaskan kepada mereka . Saat itu saya baru 16 tahun. Kalau orangtua saya ada terus mendampingi saya sih nggak apa-apa, tapi bagaimanapun juga saya nggak mau membebani orangtua saya. Saya harus punya tujuan hidup sendiri. Kekurangan fisik saya itu bukan halangan saya buat terus menjalani hidup.  

Dan setelah saya berhasil meyakinkan orangtua saya, berangkatlah saya ke Malang, diantar waktu itu, dan akhirnya saya ketemu suami saya dan kami menikah lalu punya anak yang Alhamdullilah normal, tidak seperti kami. Kalau dulu saya nggak nekat, saya nggak bisa mbiayai anak saya sekolah sampai sekarang ini dan bisa ngirimi orang tua saya juga meskipun nggak banyak 

S : Tinggal disini sudah berapa lama mbak? Suaminya juga buta dari lahir? Kerasan disini?ME : Saya sudah 10 tahun disini, ya dikrasan-krasankan Mbak, namanya juga tinggal barengan banyak orang beda karakternya. Maunya juga beda, ya pinter-pinternya kita saja buat saling ngerti. Kalau suami saya karena sakit, kena obat terus jadi buta. Kalau yang buta dari lahir itu lebih bisa menerima diri dan nggak gampang emosi dibandingkan yang setelah besar baru mengalami.

S : Rasanya gimana sih ,Mbak?

ME : Ya, saya kan pernah sedikit bisa melihat, meskipun itu hanya samar, tapi kadang merasa enak mungkin ya kalau bisa melihat dengan jelas, kupu-kupu warnanya seperti apa, kalau ngomongin gunung oh suasananya seperti apa, kalau ke pantai bisa melihat oh lautnya seperti apa. Nggak cuma mbayangkan aja tapi nggak tahu bentuk aslinya.

S : Ya, sama aja mbak, kalau sekarang banyak orang bisa melihat tapi yang dilihat yang nggak genah-genah (bener-bener) , wes sama-sama ada kekurangan kelebihannya, Mbak

ME : Iya mbak bener

S : Mbak-nya ini hebat ya, pikiran dan wawasannya luas

ME : Ya gimana ya mbak, waktu pertama kali saya punya keinginan untuk ke Malang itu, saya sempat mengajak teman saya yang sama-sama buta. Tetangga desa. Tapi, dia nggak mau, gengsi, takut, dan orangtuanya juga nggak mengijinkan. Sampai sekarang ya gitu-gitu aja, cuma di rumah, nggak nikah dan nggak pernah keluar rumah. Saya nggak mau kayak gitu, Mbak. Ya itu tadi lho, hidup sekali harus punya makna hidup, punya tujuan. Nggak cuma menyerah pada keadaan. Ya tho?

Huaaaaa .. rasanya ati ini nyess ngedenger sharingnya Mbak Erni. Terus terang saya kagum sama beliau, kekurangannya nggak membuatnya menyerah dan menerima apa adanya. Bisa mengolah kekurangan menjadi kelebihan yang menurut saya itu keren!!Saya aja yang fisiknya normal, kadang kalau sudah kepentok satu masalah, sudah menyerah, sudah mengatakan "Hidup ini nggak adil, dan bla-bla-bla"
Malu malu dan malu nih.. dan untungnya nih, pas saya lagi galau kok tetiba teringat percakapan ini. Jadi punya semangat untuk lebih berjuang memaknai hidup.
Kalau dia saja bisa, kenapa saya tidak? Kalau kamu, gimana?

2 komentar: