Jumat, 08 Januari 2016

You Can Let Go Now, Daddy

doc pribadi



































Tidak pernah ada dalam benak saya, bahwa hari itu Selasa, 17 November 2015 adalah hari paling tak telupakan dalam hidup kami , sekeluarga :   Saya, Mama, Winda, dan Nico.
Bagaimana tidak, usaha yang selama ini kami lakukan untuk menemani papa dalam perjuangannya melawan gagal ginjal / CKD (Chronic Kidney Disease) Stadium 5 berakhir sudah, berbarengan dengan hembusan nafas terakhir papa , kami kehilangan papa :(

Banyak hal yang terjadi sepanjang perjalanan kami melewati berbagai peristiwa demi memperjuangkan kesembuhan papa, yang kadangkala memang bertentangan dengan keinginan papa sendiri. Bukannya apa, papa, sebagai pengidap Diabetes Melitus puluhan tahun, sangat sudah menahan keinginan untuk mengkonsumsi makanan apa yang beliau ingin makan.
Sampai akhirnya, sekitar Bulan Mei, saat tiba tiba kaki papa bengkak, dan  terpaksa dirawat inap di Rumah Sakit Tentara, Malang, akhirnya baru ketahuan kalo papa sudah menderita Gagal Ginjal dari kreatinnya yang mencapai 5,sekian (normalnya dibawah 1)


Hal demi hal kami lakukan demi kesembuhan papa , dari mengatur pola makan sesuai dengan ahli gizi (dan banyak kecolongan karena papa masih bisa naik motor dan jajan rujak, dawet sendiri hiks) , mengantri di Rumah Sakit Panti Nirmala Malang setiap satu bulan sekali untuk check up rutin, membawa papa ke UGD setiap kali papa muntah dan lemas , dan akhirnya 13 Oktober kami sepakat membawa papa ke rumah saya di Surabaya , supaya papa bisa refreshing, disamping karena mama, yang sudah 17 tahun menderita stroke, bingung jika harus sendirian meladeni papa. 

Ternyata di Surabaya, tidak membuat papa semakin sehat :( hari pertama, kami terpaksa membawa papa ke UGD Royal Hospital karena papa lemas . Sangat lemas, bahkan untuk mengangkat kepalanyapun tidak bisa. Untung saja ada Bunda Devi, dan Mas Boy, teman kami yang menemani kami disana. Papa tidak mendapatkan perawatan apapun, dari tensi bagus, gula darah bagus, dan kemungkinan hanya capek , dan papa dipulangkan .
Besoknya papa sudah sehat kembali, tapi jalannya semakin lemah, sudah semakin sering muntah, dan hampir setiap hari papa nggak bisa tidur.
Otomatis, saya dan Nico juga tidak bisa tidur juga, takut kalau papa butuh apapun dan kami ketiduran, dan sepanjang papa di rumah , settingan rumah kami ubah supaya kami bisa tanggap kalau papa butuh apa apa ( maksudnya kami gelar tikar di depan kamar papa dan tidur disana setiap malam :D )

Hari demi hari kami lalui dengan kegiatan menemani papa, dan kebetulan saat itu Nico sudah resign dari kantornya yang lama. Jadi, kami berdua bisa fokus menemani papa dengan segala kebutuhannya.
Banyak hal lucu juga sih yang menemani perjalanan kami, termasuk saya sering gontok-gontokan sama papa yang ngotot minta Es buah, Es Krim, Jus Strawberry, Babi Kecap, dll kalau sudah begitu saya seperti memperlakukan anak kecil 
" Iya pa, tak beliin, tapi nanti tidur ya" 
Ah, papa ini yang aku kangeni..
Belum lagi setiap jam sekali papa panggil "Nic, pipis" dan Nico lalu berlari ngambilin pispot corong papa (Papa nggak mau kalau aku yang melakukan)
Kondisi papa semakin menurun, ngompol, muntah, nggak mau makan, dan kesadarannya sudah menurun atau orang Jawa bilang "ngglambyar", dan hal ini yang membawa pada keputusan keluarga, papa dibawa pulang Malang dan menjalani rawat inap 2x dan 4X cuci darah  di RSUD Saiful Anwar Malang.

Senin , 16 November 2015 setelah cuci darah ke 4 kalinya, tubuh papa menyerah, kondisi papa semakin kritis  dengan ditemani saya, Winda, dan Nico (Mama di rumah karena kondisinya tidak memungkinkan untuk ke Rumah Sakit)
Semalaman kami  hanya bisa berdoa, tanpa tangis, tapi penuh harapan kami menyerahkan semuanya ke tangan Bapa. Jika Bapa berkenan, berikanlah mujizat pada papa, jika memang papa harus pergi, kami serahkan papa ke dalam Tangan Bapa
Dan saya mendendangkan lagu taize sebagai penguat untuk hati saya.
"In Manus Tuas Pater, Commendo Spiritum Meum" 
( Ke Dalam Tangan Bapa Aku Serahkan Hidupku)

Selasa, 17 November sekitar jam 4 pagi, 
Winda memeluk saya dan berkata "Wes, Cik, gapapa , daripada papa sakit terus " 
Jam 6.15 setelah dilakukan tindakan oleh dokter Reza, papa menghembuskan nafas terakhirnya, dengan luka di kaki yang mendadak sembuh dan dengan wajah yang tenang, ganteng, dan segar.
Saya hanya bisa mencium papa dan menyanyikan lagu Bapa Kami kesukaan papa.

Selamat Jalan Pa ...
Naiklah ,naik terus menuju Surgamu
Ikuti cahaya abadi
Berbahagialah di SisiNya

Mencoba menuliskan kisahmu ..
dan air mata ini tak berhenti mengalir..
aku tahu , aku rindu
tapi kau ada disana sudah bahagia
bagaimana mungkin kurenggut bahagiamu dengan tangisku ?

 You Can Let Go Now, Daddy

Tulisan ini diikutsertakan dalam rangka give away bareng : elisa dan firmansyah
Akhirnya ada tema yang membuat saya harus menguatkan diri untuk menuliskan ini
Menjelang 100 hari kepergiannya

8 komentar:

  1. Hi Mak Keceh, salam kenal !

    aku aja yang baca sepintas post ini udah berkaca2 mata.
    Sengaja ga mau baca detail, takut banjir.
    Soalnya mengingatkan persis dengan kejadian perginya papa hamper 5 tahun lalu :)
    Semangat ya mak, papa kita udah lebih dari bahagia disurga sana :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. salam kenal mak :)
      butuh keberanian untuk mengingat kejadian ini dan menuliskannya. sampai hari ini , detik ini setiap buka tulisan ini saya masih menangis. satu keyakinan besar bahwa papa sudah bahagia, itu yang menguatkan saya ..terimakasih ya mak..semoga kita selalu bersemangat , dan bisa membuat papa papa kita bangga :)

      Hapus
  2. Memang menyakitkan ditinggal orang tercinta, namun lebih menyakitkan lagi melihatnya tersiksa, semoga sang papa bahagia di sana :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hallo mak :( betul sangat menyakitkan melihat beliau yang begitu saya sayangi tiba tiba pergi dari hidup kita, tapi dengan satu keyakinan papa telah disembuhkan itu yang buat saya harus bisa tegar. makasih sudah mampir ya mak :)

      Hapus
  3. Semoga diberikan ketabahan dn kesabaran utk kluarga mbak.e yaa..
    Dan buat papanya mbk. Smoga diterima amal dan ibadah di sisi-Nya ya...

    Salam kenal
    .

    BalasHapus
    Balasan
    1. aminn aminn makasih ya mbak :) salam kenal juga ^_^

      Hapus
  4. Mba ceritanya bikin mata berair. Saya jadi teringat sama sahabat saya yang pernah mengalami gagal ginjal dan yang sudah kembali pada yang di atas juga. Kehilangan orang terdekat dan orang yang kita sayang memang kehilangan yang sangat sulit untuk dilupakan, tapi bagaimanapun kita harus bisa mengikhlaskan. Semoga beliau mendapat tempat terbaik di sisi-Nya. Turut berduka ya, Mba :')

    Salam kenal. :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. salam kenal mbak. iya meskipun berat dan masih menangis terus hingga detik ini tapi saya harus ikhlas. papa sudah sembuh dan bahagia.salam kenal :)

      Hapus