Selasa, 12 Januari 2016

Generasi Nyinyir


Siapa sih yang disebut generasi nyinyir? hahaha .. tergelitik juga nih nulis tentang ini, bukannya mau menghakimi orang lain, justru saya mau instropeksi diri dari sini.

Kalau dahulu, jaman saya kecil ada satu karakter di sinetron Keluarga Rahmat (tayang 1987) yaitu Bu Subangun yang ampunnn bawel, judes, dan nyinyir. Nyinyir dalam arti semua semua dikomentarin, semua tampak salah dan dia sendiri yang bener. Masih njamani sinetron ini?

Oke, saya nggak akan membahas tentang sinetron ini, tapi tentang budaya nyinyir yang kurang lebih karakternya sama dengan Bu Subangun ini.
Kenapa sih kok tetiba tertarik nulis ini? 
Bulan lalu waktu ada pendalaman iman di lingkungan, kami sharing  dan intinya nih, apa sih yang kita lakukan untuk menyambut datangnya Dia? Nah, juntrung juntrungnya malah para bapak ibu ngebahas tentang kesabaran, tentang kebiasaan untuk berkomentar, dan susahnya menahan diri.

STOP !
Menahan diri? Nah, ini sebenarnya intinya dari semua pembahasan hari itu. Ada sebuah cerita seorang bapak ditantang anaknya untuk tidak ngomel selama satu tahun. Karena merasa tidak sanggup, akhirnya terjadi tawar menawar yang akhirnya disepakati sang Bapak mencoba untuk tidak ngomel selama satu jam. Mudah , satu jam saja . Benarkah mudah?

Ternyata enggak mudah lho menahan diri untuk nggak ngomel , nggak nyinyir bahkan untuk satu jam saja. Saya sudah membuktikan , dan gagal pada 10 menit pertama selesai pendalaman iman itu #sigh
Ada aja yang dilakukan orang yang nggak lepas dari pengamatan saya dan membuat saya gatal berkomentar. Tentunya komentar yang negatif dan yang tidak sesuai dengan pemikiran saya. 

Tapi semakin hari semakin saya pikirkan terus, kenapa ya kok saya dan banyak orang yang saya amati juga seringkali nyinyir terhadap kehidupan orang lain?
Apalagi di jaman sosial media seperti ini, sepertinya bebas kalau mau nyinyirin orang lain.
Mau nyinyirin orang yang bekerja, Mau nyinyirin orang yang tidak bekerja, mau nyinyirin kewajiban beribadah orang lain, mau nyinyirin kehidupan perkawinan orang lain
Sah kok (bagi yang menyinyir) nggak bayar, dan nggak perlu memikirkan efeknya bagi orang lain, tinggal nyerocos aja, lalu send, dan kemudian lega karena merasa lebih hebat dari orang lain
Sama seperti sahnya kalau nyinyirin orang lain di dunia nyata, toh nggak meninggalkan jejak, tapi meninggalkan kepuasan batin (duniawi, tentunya)

Hmm... jujur saya ngeri dengan generasi nyinyir belakangan ini, semua semua dinyinyirin, semua dikomentarin, dan akhirnya perang komentar membela egonya masing masing. Panasnya dunia ini..
Bayangkan jika satu orang saja berhenti nyinyir dan lebih fokus pada kehidupan pribadinya, indahnya..
Benar benar ya kalau saat ini  kita nggak bisa nahan diri, sudah pasti kita masuk dalam generasi nyinyir ini. Bukan begitu, gaes ?

Ah, tapi saya nggak akan berharap untuk orang lain berhenti nyinyir, setidaknya ini bisa dijadikan resolusi 2016 saya , hahahaha... 
Dimulai dari hari ini , di dalam rumah, dan didepan laptop kesayangan saya.
Mau ikut?

Nb : Apakah tulisan ini juga sebagai bentuk suatu kenyinyiran :D 
#ahsudahlah

Jumat, 08 Januari 2016

You Can Let Go Now, Daddy

doc pribadi



































Tidak pernah ada dalam benak saya, bahwa hari itu Selasa, 17 November 2015 adalah hari paling tak telupakan dalam hidup kami , sekeluarga :   Saya, Mama, Winda, dan Nico.
Bagaimana tidak, usaha yang selama ini kami lakukan untuk menemani papa dalam perjuangannya melawan gagal ginjal / CKD (Chronic Kidney Disease) Stadium 5 berakhir sudah, berbarengan dengan hembusan nafas terakhir papa , kami kehilangan papa :(

Banyak hal yang terjadi sepanjang perjalanan kami melewati berbagai peristiwa demi memperjuangkan kesembuhan papa, yang kadangkala memang bertentangan dengan keinginan papa sendiri. Bukannya apa, papa, sebagai pengidap Diabetes Melitus puluhan tahun, sangat sudah menahan keinginan untuk mengkonsumsi makanan apa yang beliau ingin makan.
Sampai akhirnya, sekitar Bulan Mei, saat tiba tiba kaki papa bengkak, dan  terpaksa dirawat inap di Rumah Sakit Tentara, Malang, akhirnya baru ketahuan kalo papa sudah menderita Gagal Ginjal dari kreatinnya yang mencapai 5,sekian (normalnya dibawah 1)


Hal demi hal kami lakukan demi kesembuhan papa , dari mengatur pola makan sesuai dengan ahli gizi (dan banyak kecolongan karena papa masih bisa naik motor dan jajan rujak, dawet sendiri hiks) , mengantri di Rumah Sakit Panti Nirmala Malang setiap satu bulan sekali untuk check up rutin, membawa papa ke UGD setiap kali papa muntah dan lemas , dan akhirnya 13 Oktober kami sepakat membawa papa ke rumah saya di Surabaya , supaya papa bisa refreshing, disamping karena mama, yang sudah 17 tahun menderita stroke, bingung jika harus sendirian meladeni papa. 

Ternyata di Surabaya, tidak membuat papa semakin sehat :( hari pertama, kami terpaksa membawa papa ke UGD Royal Hospital karena papa lemas . Sangat lemas, bahkan untuk mengangkat kepalanyapun tidak bisa. Untung saja ada Bunda Devi, dan Mas Boy, teman kami yang menemani kami disana. Papa tidak mendapatkan perawatan apapun, dari tensi bagus, gula darah bagus, dan kemungkinan hanya capek , dan papa dipulangkan .
Besoknya papa sudah sehat kembali, tapi jalannya semakin lemah, sudah semakin sering muntah, dan hampir setiap hari papa nggak bisa tidur.
Otomatis, saya dan Nico juga tidak bisa tidur juga, takut kalau papa butuh apapun dan kami ketiduran, dan sepanjang papa di rumah , settingan rumah kami ubah supaya kami bisa tanggap kalau papa butuh apa apa ( maksudnya kami gelar tikar di depan kamar papa dan tidur disana setiap malam :D )

Hari demi hari kami lalui dengan kegiatan menemani papa, dan kebetulan saat itu Nico sudah resign dari kantornya yang lama. Jadi, kami berdua bisa fokus menemani papa dengan segala kebutuhannya.
Banyak hal lucu juga sih yang menemani perjalanan kami, termasuk saya sering gontok-gontokan sama papa yang ngotot minta Es buah, Es Krim, Jus Strawberry, Babi Kecap, dll kalau sudah begitu saya seperti memperlakukan anak kecil 
" Iya pa, tak beliin, tapi nanti tidur ya" 
Ah, papa ini yang aku kangeni..
Belum lagi setiap jam sekali papa panggil "Nic, pipis" dan Nico lalu berlari ngambilin pispot corong papa (Papa nggak mau kalau aku yang melakukan)
Kondisi papa semakin menurun, ngompol, muntah, nggak mau makan, dan kesadarannya sudah menurun atau orang Jawa bilang "ngglambyar", dan hal ini yang membawa pada keputusan keluarga, papa dibawa pulang Malang dan menjalani rawat inap 2x dan 4X cuci darah  di RSUD Saiful Anwar Malang.

Senin , 16 November 2015 setelah cuci darah ke 4 kalinya, tubuh papa menyerah, kondisi papa semakin kritis  dengan ditemani saya, Winda, dan Nico (Mama di rumah karena kondisinya tidak memungkinkan untuk ke Rumah Sakit)
Semalaman kami  hanya bisa berdoa, tanpa tangis, tapi penuh harapan kami menyerahkan semuanya ke tangan Bapa. Jika Bapa berkenan, berikanlah mujizat pada papa, jika memang papa harus pergi, kami serahkan papa ke dalam Tangan Bapa
Dan saya mendendangkan lagu taize sebagai penguat untuk hati saya.
"In Manus Tuas Pater, Commendo Spiritum Meum" 
( Ke Dalam Tangan Bapa Aku Serahkan Hidupku)

Selasa, 17 November sekitar jam 4 pagi, 
Winda memeluk saya dan berkata "Wes, Cik, gapapa , daripada papa sakit terus " 
Jam 6.15 setelah dilakukan tindakan oleh dokter Reza, papa menghembuskan nafas terakhirnya, dengan luka di kaki yang mendadak sembuh dan dengan wajah yang tenang, ganteng, dan segar.
Saya hanya bisa mencium papa dan menyanyikan lagu Bapa Kami kesukaan papa.

Selamat Jalan Pa ...
Naiklah ,naik terus menuju Surgamu
Ikuti cahaya abadi
Berbahagialah di SisiNya

Mencoba menuliskan kisahmu ..
dan air mata ini tak berhenti mengalir..
aku tahu , aku rindu
tapi kau ada disana sudah bahagia
bagaimana mungkin kurenggut bahagiamu dengan tangisku ?

 You Can Let Go Now, Daddy

Tulisan ini diikutsertakan dalam rangka give away bareng : elisa dan firmansyah
Akhirnya ada tema yang membuat saya harus menguatkan diri untuk menuliskan ini
Menjelang 100 hari kepergiannya

Senin, 04 Januari 2016

[Resep] Ayam Bingung Pedas Ala Dapurkece






Pasti pada bertanya tanya, kenapa masakan satu ini diberi nama Ayam Bingung Pedas. 
Ya kan? Iya pasti iya deh.. (yee .. maksa) , soalnya jujur pas masakan ini jadi, saya bingung sebenarnya masakan apa ya. 
Tanya sana sini, sama temen temen yang pinter masak, catering, bahkan chef, semuanya juga pada bingung dan menebak nebak juga, masakan  apa ini. 
Ada yang jawab Garang Asem, Lodeh, Tinoransak, dll. Nah daripada menebak nebak ya sudahlah saya kasih judul Ayam Bingung Pedas . Sesuai dengan sejarahnya kan? hihihi..

Awalnya, saya mau masak tinoransak, tapi karena punya santan nganggur lebihan uji coba buat pukis, yo wes saya tuang sekalian. Weladalah, rasanya ternyata dahsyat, apalagi setelah itu dicemplungin kemangi. Jadi mirip mangut, sodara sodara :D

Daripada lama lama dan makin penasaran, ayok mulai mencoba mempraktekannya.
Saya aja baru kali ini jatuh cinta sama masakan saya dan nggak rela berbagi sama Nico 
:D

Bahan :
1/4 kg daging ayam potong kecil kecil sesuai selera (saya pilih bagian dada yang banyak dagingnya)
200 ml santan kental
1 ikat kemangi , petik sesuai selera
Gula
Garam
Merica

Bumbu (uleg kasar)  :
3 bh bawang putih
5 bh bawang merah
3 bh cabe merah besar
7 bh cabe rawit (atau sesuai selera)
3 butir kemiri
1 ruas kunyit, bakar dahulu
1 ruas jahe 

2 lmbr daun jeruk purut
1 batang serai geprak 


Cara membuat :
1. Tumis bumbu yang telah diuleg kasar hingga harum bersama daun jeruk dan serai, tambahkan sedikit air. 
2. Lalu masukkan daging ayam  , aduk rata
3. Tambahkan, gula, garam, dan merica sesuai selera. 
4. Masukkan santan, lalu aduk kembali hingga rata lalu biarkan matang hingga agak asat  dan mengeluarkan minyak
5. Masukkan kemangi, aduk, lalu matikan api , dan tutup dengan tutup panci, lalu  biarkan terproses matang dengan sendirinya

Nah, mudah sekali kan ? Monggo dicoba.. dijamin, pasti ketagihan ;) 

[Resep] Telor Petis Ala Dapurkece

Telor Petis adalah masakan khas Madura, dan  menu yang paling sering saya buat apalagi kalo lagi kebingungan masak apa hari ini #nyengir
Cara buat dan bahan bahan yang dibutuhkan mudah kok siapa saja pasti bisa membuatnya.
Telur Petis ini enak disantap dengan nasi aja, atau dikombinasikan  dengan masakan lainnya, biasanya ditemui di Nasi Jajan Ala Madura dan sebagai pelengkap Lontong Cap Gomeh 
Rasanya? Enak dong, gurihnya petis bercampur dengan santan dan dominasi manis , membuat perpaduan yang sempurna dan pasti ngabis - ngabisin nasi hehehe

Oke deh, langsung aja saya share resepnya
Sudah banyak ibu ibu yang ngotot minta resep ini ketika saya share di Facebook 
ayok deh bu ibuk langsung dipraktekin ya, jangan cuma disave aja resepnya :D 



Bahan : 

8 butir telur ayam rebus - kupas - sisihkan
1 bh tahu - potong dadu - goreng setengah matang
4 bh cabe hijau besar - rajang
1 gelas blimbing santan (saya pakai 1 bungkus santan bubuk yang diseduh dengan air panas 200 ml)
4 sdm minyak untuk menumis
4 sdm petis udang

Bumbu :
7 bh cabe kecil (atau sesuai selera)
4 bh bawang putih
Geprak : 3 cm bumbu kunci 
Gula
Garam

Cara :
1 . Uleg kasar cabe kecil dengan bawang putih, lalu tumis, masukkan bumbu kunci, petis, 
dalam api kecil
2. Tambahkan sedikit air agar tidak gosong, lalu tumis sampai harum
3. Masukkan cabe hijau yang telah dirajang, tahu setengah matang , lalu terakhir telur rebus lalu aduk rata
4 .Jangan terlalu sering mengaduk, nanti penampilan telurnya tidak bagus 
5. Masukkan santan, tambahkan gula, garam sesuai dengan selera
6. Lalu biarkan mengental, angkat lalu sajikan 

* Oh iya sebelum menambahkan gula dan garam, kenali dulu karakter petisnya, apakah cenderung manis atau asin
Kalau telur petis ini, rasanya cenderung  manis, jadi jangan lupa ya :) 

Mudah bukan?
Selamat mencoba dan mengkreasikan ^_^