Rabu, 28 November 2018

Memahami Kemudahan dan Risiko Program Fintech Peer To Peer Lending Bagi Konsumen



" Apakah  seseorang yang bermasalah dengan pinjaman di program fintech akan bermasalah juga dengan BI Checking saat akan mengajukan KPR? " 

Begitu kira-kira pertanyaan seorang peserta "Ngobrol Tempo : Sosialisasi Program Fintech Peer to Peer Lending : Kemudahan dan Risiko Untuk Konsumen " , Selasa, 27 November 2018  di Kaya Resto & Coffee Holic Surabaya. 


Sebelum masuk dalam pembahasan lebih lanjut, sebenarnya kalian sudah paham belum sih apa yang disebut dengan program Fintech?


Yes, seiring dengan perkembangan era digital belakangan ini, anak-anak muda jaman now, berlomba-lomba untuk menciptakan suatu karya yang diharapkan dapat mempermudah  aktivitas dan kehidupan manusia melalui berbagai program startup, yang salah satunya adalah pada bidang Fintech.


Fintech yang berasal dari kata "financial" dan "technology" ini merupakan sebuah inovasi di bidang jasa keuangan. Sedangkan Peer to Peer Lending atau selanjutnya kita sebut dengan P2P Lending merupakan program Fintech yang melayani pinjaman dana bagi pelaku UMKM yang bertujuan memutus batas-batas ketradisionalan dalam proses pinjam-meminjam uang dalam lingkup masyarakat. 


Masalahnya, meski sudah beredar di masyarakat, banyak orang yang masih belum memahami dengan jelas program Fintech ini, sehingga banyak di antara mereka yang kemudian terjebak pada berbagai risiko negatif seperti penyalahgunaan data kontak nasabah hingga cara penagihan yang bisa dibilang tidak beretika. 


Sosialisasi Program Fintech ini menghadirkan 3 narasumber, yaitu :

1. Semuel A. Pangerapan - Direktur Jenderal Aplikasi dan Informatika (Aptika) 
2. Agus Kalifatullah Sadikin - Head of Partnership PT Ammana Fintek Syariah
3. Andri Madian - Chef Marketing Officer Akseleran 



Acara yang dimoderatori oleh Ali Nuryasin (Redaktur ekonomi Tempo) ini dibuka dengan penjelasan dari  Semuel A. Pangerapan yang meyakini bahwa Indonesia sebenarnya memiliki semua komponen yang dapat menjadi kekuatan ekonomi terbesar di dunia pada tahun 2030, asalkan bisa bertransformasi ke ekonomi digital. Dan transformasi ke era digital tersebut bisa dilihat dalam bentuk transaksi yang tidak harus bertatap muka, melainkan beralih pada screen to machine. 


Lebih lanjut lagi, beliau menggambarkan bahwa ada 7 komponen dalam Peta Jalan e-Commerce yang berisi arahan dan langkah-langkah penyiapan dan pelaksanaan perdagangan yang transaksinya berbasiskan serangkaian perangkat dan prosedur elektronik.





Sedangkan yang termasuk dalam tujuh komponen Peta Jalan E-commerce ini adalah :

1. Pendanaan 
Optimalisasi pendanaan untuk UMKM digital dan start up e-commerce
2. Perpajakan
Penyederhanaan kewajiban perpajakan
3.  Perlindungan konsumen
Perlindungan konsumen dan pelaku industri dengan regulasi
4.  Pendidikan dan sumber daya manusia
Edukasi masyarakat dan pengambil kebijakan mengenai e-commerce
5.  Infrastruktur  Komunikasi
Peningkatan infrastruktur komunikasi sebagai fondasi e-commerce
6. Keamanan siber (cyber security) 
Penguatan sistem keamanan siber untuk meningkatkan keamanan transaksi online
7. Perlindungan konsumen
Perlindungan konsumen dan pelaku industri dengan regulasi

Melihat ketujuh komponen tersebut, maka pemerintah merasa perlu mengedukasi masyarakat dan pengambil kebijakan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan e-commerce terutama mengenai perusahaan fintech yang legal dan yang ilegal. 


Memahami Kemudahan dan Risiko Program Fintech Peer To Peer Lending Bagi Konsumen

Oh ya, pernah mendengar isu miring di mana perusahaan fintech melakukan penagihan dengan cara yang kurang beretika dan "menyedot" data kontak peminjam? 


Hmm.. ternyata hal itu termasuk tindakan ilegal dan bertentangan dengan Pasal 26 UU ITE tentang Perlindungan Data Pribadi dalam UU ITE.  Jika hal ini terjadi, Aptika akan menjadi lembaga yang bisa membantu memberikan jalan keluar atas permasalahan tersebut dan ada sanksi yang akan dikenakan kepada operator atau bank pemegang data berkaitan dengan hal tersebut. 




Karena itu, sebelum melakukan proses pinjam-meminjam, kita diharapkan berhati-hati dalam memilih perusahaan Fintech yang memang sudah masuk dalam daftar OJK agar tidak bermasalah di kemudian hari, misalnya dengan memperhatikan platform, bunga, denda, dan perusahaannya. 


Nggak cuma itu, Rek. Ada beberapa tips yang kudu dan wajib kamu tahu sebelum sebelum meminjam di Fintech P2P Lending : 





Sebagai tambahan informasi, saat ini, ada 73 perusahaan fintech P2P Lending yang daftarnya dapat kamu lihat di website OJK.  Perusahaan-perusahaan fintech tersebut memperoleh izin yang berlaku selama setahun, di mana untuk mendapatkan izin fintech tersebut harus memperoleh ISO 27001. 

Gimana, masih ragu dengan program Fintech P2P Lending? 

Sebenarnya program ini sangat membantu sekali terutama bagi UMKM yang benar-benar membutuhkan dana untuk usaha, dengan catatan dipergunakan secara produktif dan tidak dipergunakan untuk hal-hal yang konsumtif. 

Di samping itu Fintech P2P Lending juga menawarkan berbagai kemudahan seperti proses pengajuan secara online yang memudahkan pengajuan pinjaman

Meski demikian, yang harus kamu pahami bahwa Fitench P2P Lending menerapkan bunga yang lebih tinggi dari perbankan konvensional, sekitar 18-21 persen setahun karena tidak adanya aset yang diagunkan, dan yang digunakan  adalah invoice atau SPK 


Salah satu fintech yang direkomendasikan, di antaranya adalah  Ammana yang menargetkan pada UMKM mikro.




Kelebihan dari Ammana ini adalah tidak memberikan denda saat peminjam mengalami tunggakan pembayaran. Meski demikian, ada regulasi khusus yang menyangkut perlakuan yang diberikan pada peminjam, di mana ketentuan tersebut sudah harus dipahami dengan baik sebelum melakukan transaksi termasuk harus memiliki usaha terlebih dahulu saat melakukan pinjaman. Selain itu, di program Ammana ini, para investor dapat melakukan investasi online, tetapi untuk UKM hanya bisa dilakukan secara offline karena harus melakukan verifikasi dan pendampingan terhadap peminjam. 


Berbeda dengan Akseleran, program Fintech yang satu ini dapat melayani peminjaman hingga lebih dari Rp200 juta , tentu saja dengan berbagai ketentuan yang ditetapkan misalnya :

1. Berlokasi di luar wilayah Jabodetabek, Banten, atau Bandung
2. Sudan memiliki laba bersih setidaknya di satu tahun terakhir sebelum mengajukan pinjaman.
3. Memiliki laporan keuangan yang akan dicross check dengan rekening koran setidaknya 3 bulan terakhir.

Namun, apapun program layanan Fintech yang diambil, yang harus digaris besari para pelaku UKM adalah bagaimana mereka memahami secara benar sistem kerja fintech tersebut agar tidak mengalami kemacetan dalam hal pencairan dana, besaran bunga, dan proses pembayaran. 


Oh ya, sebelum kuakhiri ngobrol-ngobrol tentang #PahamiFintech ini,  kembali ke pertanyaan di awal tadi " Apakah  seseorang yang bermasalah dengan pinjaman di program fintech akan bermasalah juga dengan BI Checking saat akan mengajukan KPR? " 

Ternyata tidak, sebab hingga saat ini fintech tidak terhubung dengan sistem perbankan dan pelaku fintechpun tidak punya wewenang untuk melakukan BI Checking atas calon peminjam.

Terakhir, jika dalam perjalanan waktu kamu mengalami masalah dengan Fintech, adukan saja ke @aduankonten untuk ditindaklanjuti oleh Kominfo dan OJK ke depannya.

Gimana? Tak sulit kan #PahamiFintech?

Yes, sebagai generasi Millenial kita kudu dan wajib melek terhadap semua hal yang berbau teknologi, termasuk masalah financial technology ini. Ya nggak?

Pict by : Kakak Niar



Kamis, 15 November 2018

Traveloka Eats Dulu, Kulineran Nang Suroboyo Kemudian



Sudah nonton film Aruna dan Lidahnya? Atau kalau memang belum, tapi pasti tahu kan kalau di sekitar pertengahan Bulan September 2018, sebuah film yang dibintangi oleh Dian Sastrowardoyo, Nicholas Saputra, Hannah Al Rasyid dan Oka Antara ini sempat booming terutama di kalangan pecinta kuliner. 

Lha, kenapa begitu? Yes, sebab film yang diadaptasi dari buku novel karangan Laksmi Pamuntjak ini menceritakan tentang banyak pengetahuan tentang keberagaman kuliner di Indonesia, di mana penonton akan dibawa berpetualang menuju satu tempat ke tempat lain untuk mencicipi berbagai kelezatan kuliner di Indonesia. Dan, salah satu kota yang menjadi persinggahan film tersebut adalah SURABAYA ! 


Bagian serunya, di awal Bulan November kemarin, tepatnya 2-4 November, saya dan Nico beserta para foodiesnya Surabaya mendapat undangan secara langsung dari Tim Traveloka Eats untuk mengikuti Culinary Trip selama 3 hari yang temanya  EATSXARUNADANLIDAHNYA barengan #TEMANKULINERAN. 


Yes ! Acara ini memang terinspirasi dari film Aruna dan Lidahnya tersebut. Namun, tidak semua perjalanan wisata kuliner kali ini sesuai dengan spot-spot yang ada di film tersebut. Demikian juga tidak semua spot yang kami kunjungi juga ada di dalam film itu, tapi semua tidak mengurangi keseruan acara yang sangat-sangat menyenangkan dan mengenyangkan buat kami ber-30 ! Seperti apa keseruannya? Yuk, mari kita kita mulai dari : 


Hari 1 : Jumat, 2 November 2018 
Jam 9 pagi kami, para peserta diwajibkan untuk kumpul dan melakukan registrasi di Hotel Harris Gubeng. (FYI, untuk kelancaran acara, semua peserta mendapatkan fasilitas untuk menginap di hotel tersebut selama 3D2N) Asiknya, karena profesi saya dan Nico sama, so kami boleh ikut berdua dan sudah pasti sekamar dong ya (ini gak perlu dibahas kan, ya sebenernya?)
Untuk review hotel nanti di post terpisah ya. 

Nah, di hari pertama, apa aja sih yang kuliner yang aku santap di hari pertama ? Siap-siap yak ! Ini dia...









Hari 2 : Sabtu, 3 November 2018 


Jadi, sebenarnya di pagi hari kedua ini, kami mendapat jatah breakfast di hotel, tapi karena kedudulan saya dan terlalu bersemangat haha-hihi, tumben tumbenan lupa foto. Tapi yang jelas, menu-menu di resto Harris Gubeng tak perlu diragukan lagi. Kalau kamu sempat makan di sana, jangan lupa cobain wafflenya ya ! Semua teman sepakat bilang wafflenya top markotop 


Baca juga : Marketplace Addicted Buffet Lunch Harris Gubeng : Wajib Coba Makan Di Sini, Gengs !


Siap lanjut ke cerita di hari kedua? Yuk mari, longgarkan ikat pinggang dulu, yak. 








Ahhh.. hari yang melelahkan, menyenangkan, dan sekaligus mengenyangkan sangat! Tapi, herannya menurut cerita teman-teman dan termasuk saya juga, begitu sampai hotel beberapa di antara kami masih laper lho.. Kok bisa ya? 


Untung saja, saya sempat menculik beberapa jajan di mobil untuk bontotan di kamar, sementara temen lain memilih untuk pesen Go-food atau keluar lagi makan malam  tahap ke-dua ! Bener-bener amazing kalian, Gengs!

Masih belum bosan kan?

Yuk, mari lanjut ke :

Hari 3 : Minggu, 4 November 2018 



Oke, sampailah kita di hari ke-tiga !


Seperti yang sebelumnya, pagi ini kami diminta kumpul jam 7 pagi buat mengenyangkan perut di hari terakhir ! 

Dasar sudah laper di malam sebelumnya tapi males keluar makan, pagi hari saya sudah kelaparan dan ribut aja mau sarapan di hotel. Lha, pas woro-woro ngajak temen saya Mr. Boo buat makan, eh dia bilang nggak dapet sarapan di hotel pagi itu huhuhu.. Gatot buat foto deh.. 

Tapi, gpp sih, terobati juga dengan perjalanan pagi ke BUBUR AYAM SPENSIX yang ada di Jalan Jawa. 

Bubur ayam yang dibandrol dengan harga per porsi sekitar Rp 14.000 dan Rp 18.000 jika lengkap dengan rempelo ati ini ternyata emang enak.. huhuhu.. kenapa baru tahu hari itu ya? Padahal, saya sebenarnya bukan penggemar bubur.  Bahkan, Mbak Yuniari yang katanya ga doyan bubur (akhirnya mesen setengah porsi) juga bilang enak..  Nah, lho !

Setelah kenyang dengan snack pagi itu (( SNACK )), kami diajak untuk melihat simbol kebanggaan arek-arek Surabaya yaitu TUGU PAHLAWAN.  Nggak perlu pakai guide, sebab, ternyata para pendamping kelompok kami (kami dibagi jadi 4 kelompok) adalah Guide handalnya Surabaya, alias mantan Cak dan Ning Surabaya . Hohoho. Asik tenan kan?

Apalagi, guide kelompok kami, kelompok 3 adalah Cak Teddy , yang adalah Cak Suroboyo 2015. Mantull ! 

Nah, setelah dari TUGU PAHLAWAN, kami diajak cari oleh-oleh di Pasar Genteng. Dan saya memberli sebungkus IKAN LIDAH ASIN , PETIS SASETAN dan PINGGIRAN SPIKU ! hahahaha. emak-emak banget kan?

Puas belanja, kami masih diajak snacking lah. Kemana kali ini? 

Yes, kami akan mencoba mencicipi rujak cingur Ahmad Jais yang seporsinya Rp 70.000 dan setempehnya, Rp 1.050 jeti untuk 15 porsi. Yoopo perasaanmu, Rek? makan rujak cingur sejeti ? hahaha.

Emang enak sih, bumbunya gurih, pekat dan cingurnya emfuk nget.. Tapi, yang namanya rujak cingur yo wes ngono ae lah kalo nurut aku. 
Rujak cingur Ahmad Jais , sejeti lima puluh rebu
Nah, setelah puas menikmati rujak sejeti itu, kami masih diajak untuk nge-game di Pasar Atom yang legendaris juga. Bayangin aja sih, wes kenyang disuruh playon.. hulala ~ 



Sayangnya, kami nggak menang game meski ada kejadian handphone yang melayang dan LCDnya pecah huhuhu.. ~  Tapi, seru kok ya . Lumayan membakar kalori setelah digeber makanan 3 hari full !

Dan setelah kami semua diajak makan siang sekaligus penutupan di SOTO AYAM CAK HAR MEER ! Huhuhu.. jadi selesai nih acaranya ? Selesai? Iya !! Selesai ! Kalau dilamain jadi seminggu, aku bakal menggembul nih hahaha..

Oke deh, itu cerita panjangku tentang pengalaman Culinary Trip bersama Traveloka Eats.
Eh, btw sekarang aku jadi keranjingan ngreview di sana, karena bisa dapet point yang kalau terkumpul bisa dibuat mamam-mamam enak lagi. Plus banyak special offer yang bikin nagih.. Buruan, jangan sampai nggak update !

Akhir kata (cieee) , terimakasih tim Traveloka Eats ! Jangan bosan ajak saya lagi ya. Saya ini orangnya nurut kok hahaha.. 

Tim kami selama 3 hari : Nic, Sisca, Nyonyakece, Venda, Nena, dan Cak Teddy 




Minggu, 11 November 2018

Deklarasi Spirit of Millenials Ajak Generasi Milenial Untuk Aktif dan Inovatif Dalam Menciptakan Konten Positif Di Media Sosial


Dalam beberapa waktu belakangan ini, saya berkesempatan menghadiri beberapa event BUMN yang menghadirkan Ibu Rini Soemarno, yang menjabat sebagai Menteri BUMN saat ini. Dan baru di event kali ini saya melihat aura keibuan yang penuh semangat dari beliau yang begitu terpancar dan tampak mencintai serta dicintai anak-anaknya. Saya merinding, Gaes !


Baca juga : Berani Sukses Di Usia Muda, Inilah Pemenang Wirausaha Muda Mandiri 2018

Yes, Sabtu, 10 November 2018 saya berkesempatan menghadiri sebuah event keren bertajuk Content Creation Festival (Cocofest) yang merupakan hasil kerjasama Kementrian BUMN melalui Bank Mandiri dan juga didukung oleh PT Telkom Indonesia dan menghadirkan Ibu Rini Soemarno di acara tersebut. 


Apa sih Cocofest itu sebenarnya? COCOFEST merupakan ajang festival kreatif yang didukung oleh BUMN dengan tujuan untuk saling menghubungkan dan menginspirasi anak muda Indonesia untuk lebih kreatif dalam berkreasi melalui pembuatan konten positif di media sosial.



Adapun rangkaian Cocofest ini sebenarnya sudah berlangsung sejak Bulan Oktober 2018 lalu melalui berbagai kegiatan yang memang bergaya anak millenial jaman now. Dan, amazingnya, melalui kegiatan tersebut Cocofest telah menerima lebih dari 5200 konten kreatif melalui media sosial, baik berupa foto maupun video yang dibagi dalam 4 kategori yakni  Cocofest Nature, Cocofest Transportasi, Cocofest Infrastruktur, dan Cocofest Lifestyle. Keren banget kan?

Nah, puncak acara yang sekaligus merupakan malam penganugerahan bagi para pemenang kompetisi online tersebut diselenggarakan di Monumen Kapal Selam alias Monkasel Surabaya dengan tema Spirit of Millennials; Tribute to Heroes. 




Kenapa kok Tribute to Heroes? Ya, sebab hari itu bertepatan dengan Hari Pahlawan juga kan ya? Jadi, nggak heran, banyak di antara para Millenial BUMN tersebut yang hadir dan memakai kostum yang disesuaikan dengan tema Hari Pahlawan tersebut. 

Selain untuk mengenang dan menghormati jasa para pahlawan, acara ini tersebut juga dimaksudkan untuk memberikan semangat bagi para generasi milenial BUMN terutama untuk menjadi pahlawan masa kini dengan membuat berbagai konten positif dan kreatif untuk menciptakan masa depan BUMN dan Indonesia yang lebih maju. 


Acara yang dihadiri lebih dari 3000 anak milenial BUMN, selain menampilkan tentang industri kreatif, juga menghadirkan content creator terkemuka dan artis-artis ibukota yang so pasti keren abis.




Nggak itu saja, kedatangan Ibu Rini Soemarno di tengah-tengah acara ini juga memompa semangat para generasi millenial agar benar-benar berani menampilkan diri dan kreativitasnya di BUMN serta tak lupa untuk selalu membantu dan peduli dengan sesama juga. 



Nah, acara sampailah kita di acara puncak, yakni pengumuman pemenang COCOFEST 2018. Hmm.. siapa saja ya? 


Pemenang Best of The Best adalah : Danastri Prabaningrum






Dan pemenang favorit adalah pemilik akun Instagram @bob23hassan





Pemenang kisah inspiratif : PNM Mekaar yang memperoleh total hadiah sebesar Rp150 juta. Wow !





Selamat ya buat para pemenang !



Acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan Deklarasi Sinergi Muda Untuk Indonesia, yang isinya tentang ajakan untuk para milenials agar mau bekerjasama untuk mengisi kemerdekaan Indonesia, menantang hoaks, dan bersinergi membangun negeri. 

Yang seru, malam itu Ibu Rini beserta jajaran direktur BUMN menutup acara Cocofest 2018 #SpiritofMillenials ini dengan flash mob dengan iringan lagu Janger Persahabatan yang menjadi theme song Asian Games 2018 Jakarta-Palembang. 



Berakhir sudah acara keren ini, so buat kamu generasi milenial tetaplah aktif dan inovatif ya, jangan mudah menyerah, dan buang segala sifat-sifat buruk yang dapat menghambat kemajuanmu. Sampai ketemu di event Coco Festival Indonesia selanjutnya !

Pict by : Medialogy Team 










Selasa, 30 Oktober 2018

Sebulan Pasca Gempa Dan Tsunami, BUMN Telah Bersinergi Pulihkan Palu Dan Sekitarnya



Masih segar di ingatan kita, tepat sebulan yang lalu tanggal 28 September 2018 sekitar pukul 18.02 , gempa berkekuatan 7,4 SR yang diikuti dengan tsunami melanda pantai barat Pulau Sulawesi, di mana pusat gempa berada di 26 km utara Donggala dan 80 km barat laut kota Palu dengan kedalaman 10 km. 

Kejadian ini tentu saja sangat mengejutkan tatkala bencana alam yang melanda Lombok dan sekitarnya masih menyisakan duka mendalam tak hanya bagi para korban, tetapi juga bagi kita semua di sini. Saya tuh kalau mendengar ada bencana terjadi, rasanya hati ini ikut tercabik-cabik. hiks..


Bisa dibayangkan kehilangan sanak saudara, harta benda hingga tempat tinggal tentu menjadi bencana yang membuat kehidupan para korban bencana alam ini menjadi tak menentu ke depannya. Karena itu, seperti saat terjadi bencana alam lainnya, masyarakat tak segan-segan mengulurkan bantuan untuk para korban yang terdampak bencana sebagai bentuk perhatian dan turut merasakan kesedihan para korban bencana gempa dan tsunami Palu-Donggala ini. 



Photo credit : Jadimandiri.org
Namun, sebulan pasca terjadinya bencana gempa dan tsunami, Kota Palu dan sekitarnya sudah mulai berbenah dan beberapa lokasi yang cukup parah, salah satunya di Desa Lolu dan Desa Sibalaya, Kecamatan Tanambulava, Kabupaten Sigi yang terdampak gempa dan pencairan tanah atau biasa dikenal dengan liquifaksi mulai dibangun kembali. Sebagai informasi buat kamu, Sigi sempat menjadi kawasan terisolir sehingga aliran bantuan lebih sulit disampaikan ke kawasan tersebut. Sedih sekali ya? 

Pendistribusian bantuan ke daerah terdampak bencana tersebut dilakukan oleh berbagai elemen masyarakat, tak terkecuali Bank Mandiri sebagai bagian dari Badan Usaha Milik Negara.


Photo credit : Jadimandiri.org
Setelah sebelumnya, Bank Mandiri telah mengerahkan lebih dari 100 relawan yang terdiri dari para pegawainya guna mendukung bantuan evakuasi dan penyiapan posko bantuan serta dapur umum di lokasi terdampak bencana. Bank Mandiri telah mengirimkan bantuan makanan untuk pengungsi serta 18 unit generator set dan 414 unit emergency lamp untuk memudahkan penyediaan energi listrik dan penerangan.

Tepat sebulan pasca terjadinya gempa dan tsunami ini, Bank Mandiri berperan serta melakukan percepatan dalam membangun 400 Hunian Sementara (Huntara) yang saat ini sudah berada di tahap pengecatan.


Photo credit : Jadimandiri.org
Photo credit : Jadimandiri.org

Bencana alam yang telah memporandakan banyak bangunan ini juga mengakibatkan banyak gedung sekolah hancur sehingga para kesulitan belajar karena gedung yang rusak akibat musibah tersebut. Karenanya, program BUMN Hadir Untuk Negeri ini juga membantu menyalurkan bantuan berupa pembangunan gedung sekolah sementara di daerah pengungsian. 


Photo credit : Jadimandiri.org
Photo credit : Jadimandiri.org
Photo credit : Jadimandiri.org


Dan berbagai fasilitas pendukung seperti toilet dan tempat wudhu


Photo credit : Jadimandiri.org
Tak hanya itu, guna melengkapi sarana pendidikan bagi anak-anak yang berada di lokasi pengungsian, dibangun pula rumah bagi para guru di sekitar lokasi sekolah sementara sekaligus mengirimkan relawan tenaga pengajar untuk melakukan berbagai kegiatan belajar mengajar khususnya untuk anak-anak usia Sekolah Dasar. 


Photo credit : Jadimandiri.org
Photo credit : Jadimandiri.org

Photo credit : Jadimandiri.org
Bantuan untuk anak-anak ini juga tak berhenti di situ saja, berbagai perlengkapan sekolah, mewarna, dan alat permainan yang didistribusikan di Posko Ceria Mandiri juga diberikan kepada anak-anak agar dapat sejenak melupakan kesedihannya pada musibah yang dialaminya. 


Photo credit : Jadimandiri.org
Photo credit : Jadimandiri.org

Photo credit : Jadimandiri.org
Photo credit : Jadimandiri.org
Photo credit : Jadimandiri.org
Photo credit : Jadimandiri.org

Pengerjaan proyek bantuan kali ini bisa lebih cepat dari sebelumnya dikarenakan akses pengiriman barang-barang material yang dibutuhkan untuk menunjang proses renovasi sudah lebih mudah dibandingkan pada saat awal dilakukan pengiriman bantuan. 


Hal ini terjadi karena elemen-elemen dalam BUMN saling bersinergi untuk memulihkan Palu pasca terjadinya bencana sebulan lalu. Misalnya saja Tim Tanggap Darurat WIKA atau Wijaya Karya  yang merupakan perusahaan konstruksi milik Pemerintah Indonesia  juga sedang melakukan perbaikan fungsi mekanikal elektrikal bandara yang pada saat ini sudah masuk pada tahapan tes kelayakan elektrikal.

Sejalan dengan hal tersebut, Ibu Menteri BUMN Rini Soemarno pada Hari Selasa, 30 Oktober 2018 berkunjung ke Desa Sibalaya, Kecamatan Tanambulava, Kabupaten Sigi dalam rangka melihat pemulihan Palu yang dilakukan oleh BUMN. 


Photo credit : Jadimandiri.org
Bersama beliau hadir pula jajaran Direksi BUMN dan juga Bapak Kartika Wirjoatmodjo selaku Direktur Utama Bank Mandiri.


Photo credit : Jadimandiri.org
Kunjungan kerja tersebut tak hanya untuk melihat hasil kinerja BUMN, tetapi juga untuk berinteraksi dengan masyarakat di lokasi bencana. 


Photo credit : Jadimandiri.org
Melakukan kunjungan ke proyek Huntara yang sedang dalam tahap pembangunan tersebut. 


Photo credit : Jadimandiri.org
Dan juga mengunjungi anak-anak yang sedang belajar di ruang kelas sementara.


Photo credit : Jadimandiri.org
Ya, meski dengan perlahan namun pasti, Masyarakat Palu telah kuat dan bangkit dan bergandengan tangan bersama untuk kembali menyongsong kehidupan yang lebih baik di masa depan. Amin.